PERAN PUSTAKAWAN DI ERA TEKNOLOGI INFORMASI

 

  1. A.     PENDAHULUAN

Undang-undang no. 43 tahun 2007 pasal 1 ayat 1 mendefinisikan perpustakaan sebagai institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan atau karya rekam secara profesional dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, pelestarian, informasi dan rekreasi para pemustaka.  Dari definisi tersebut kiranya ada suatu yang patut digaris bawahi bahwa di era informasi  sekarang ini pengelolaan perpustakaan juga mengalami pergeseran seiring dengan kemajuan teknologi informasi. Pustakawan harus bisa mengemas informasi, menjadikan informasi menjadi suatu yang mudah diakses. Pustakawan harus bisa menjembatani antara pemustaka yang mengalami banjir informasi, dan yang sulit mengakses informasi sehinggajangan sampai menimbulkan kesenjangan informasi (information gap) yang akan berdampak pada kesenjangan intelektual.

Disamping permasalahan di atas keberadaan teknologi informasi dan komunikasi di satu sisi menimbulkan kekhawatiran yang dalam bagi eksisnya sebuah perpustakaan.  Adanya internet telah mengubah paradigma pencarian informasi. Dimana informasi bisa didapat dengan mudah tanpa perlu mengunjungi perpustakaan. Cukup dengan menyediakan komputer dan modem, pemustaka sudah bisa akses dari depan komputer dari rumah masing-masing.  Permasalahan tersebut tentunya  juga menjadi tantangan bagi pustakawan bagaimana agar perpustakaan tidak ditinggalkan pemakainya.

Berhadapan dengan perkembangan teknologi dan fenomena perubahan yang terjadi, pustakawan harus bisa mengungkap  apa yang berubah dan apa yang seharusnya dilakukan. Tugas perpustakaan adalah mengumpulkan, mengolah atau  mengorganisasikan informasi dan menyediakan akses terhadap sumber daya informasi yang relevan. Sedangkan perubahan yang harus disikapi adalah perkembangan teknologi informasi yang ada yang tadinya aktivitas perpustakaan  dilakukan secara manual akan bergeser dengan bantuan komputer.Permasalahan tersebut membawa dampak pada perluasan peran perpustakan, namun di satu sisi banyak  tugas perpustakaan yang tergantikan mesin.

Hal tersebut tentunya menimbulkan permasalahan baru di dunia perpustakaan, baik dari sisi SDM maupun pengelolaannya. Adanya teknologi informasi  akan membawa dampak bagi SDM yang masih konvensional, dimana aktivitas baru akan menghilangkan cara yang sudah lama digunakan. Bagi SDM yang tidak biasa tentunya akan menentang dan bersikap acuh tak acuh bahkan emosional.  Sehingga perlu sikap yang bijak untuk mengatasinya. Dalam menyikapi perubahan, ada 4 kelompok SDM yang dapat dibedakan:[1]

  1. Proponen pasif, yakni mereka yang menyadari bahwa harus ada perubahan, tetapi tidak pasti bahwa cara perubahan yang drastis dapat memecahkan masalah.
  2. Proponen aktif, yaitu mereka yang terlibat secara aktif dan mendukung perubahan.
  3. Netralis, yaitu mereka yang tidak berpengaruh dan tidak tertarik terhadap perubahan
  4. Penghambat, yaitu mereka yang terlilit  oleh tradisi atau yang merasa terancam oleh perubahan.

Dari permasalahan – permasalahan tersebut, dalam makalah ini akan di bahas bagaimana peran pustakawan di era Teknologi Informasi.

  1. B.      Topik makalah: “Reposisi Peran Pustakawan dalam Implementasi Teknologi Informasi di Perpustakaan”.
  2. C.       Batasan Masalah

Dalam makalah ini hanya akan di bahas permasalahan yang berkaitan dengan peran pustakawan berkaitan dengan implementasi teknologi informasi di perpustakaan  yang berkembang saat ini.

  1. D.      Rumusan Masalah

Bertitik tolak dari permasalahan dan latar belakang di atas, maka perumusan masalah adalah sebagai berikut: Bagaimana peran pustakawan di era teknologi informasi? Kompetensi yang bagaimana yang harus dimiliki pustakawan? Kegiatan Apa yang bisa dilakukan pustakawan terkait dengan teknologi informasi, apa manfaat TI bagi pustakawan dan kendala-kendala apa yang dihadapi pustakawan di era teknologi informasi ini dan bagaimana solusinya.

 

  1. E.      Tujuan dan Manfaat Penulisan

E.1. Tujuan utama dalam penulisan ini adalah:

  1. 1.      Mengetahui peran pustakawan  dan kompetensi yang harus dimiliki pustakawan di era teknologi informasi.
  2. 2.      Mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi perpustakaan menggunakan Teknologi informasi.
  3. 3.      Mengetahui kegiatan perpustakaan apa saja yang bisa dilakukan dengan menggunakan teknologi informasi.
  4. 4.      Mengetahui manfaat atau keuntungan menggunakan teknologi Informasi.
  5. 5.      Mengetahui kendala-kendala yang dihadapi pustakawan terkait dengan teknologi informasi dan solusi untuk mengatasinya.

E.2. Manfaaat Tulisan

  1. Bagi penulis, makalah  ini dapat menambah wawasan dan pengetahuan terutama dalam memberikan gambaran tentang peran pustakawan di era teknologi informasi.
  2. Bagi pustakawan, makalah ini mudah-mudahan dapat berguna untuk menginspirasi pustakawan dalam melihat perubahan yang terjadi dan bisa memotivasi pustakawan dalam meningkatkan perannya di era teknologi informasi.
  3. Bagi masyarakat umum,  makalah ini harapannya dapat memberi sumbangan pemikiran terhadap pengembangan perpustakaan terkait dengan penggunaan teknologi informasi di perpustakaan.
  1. F.       Landasan Teori

F.1. Pengertian Teknologi Informasi

Ada beberapa pengertian tentang teknologi informasi yang didefinisikan oleh para pakar. Abdul Kadir dalam buku Pengenalan Sistem Informasi mengemukakan definisi teknologi informasi yang diberikan beberapa pakar antara lain:[2] definisi menurut kamus Oxford (1995), teknologi informasi adalah studi atau penggunaan peralatan elektronika, terutama komputer, untuk menyimpan, menganalisa, dan mendistribusikan informasi apa saja, termasuk kata kata, bilangan, dan gambar. Menurut Alter (1992), teknologi informasi mencakup perangkat keras dan perangkat lunak untuk melaksanakan satu atau sejumlah tugas pemrosesan data seperti menangkap, menstransmisikan, menyimpan, mengambil, memanipulasi, atau menampilkan data. Martin (1999) mendefinisikan teknologi informasi tidak hanya terbatas pada teknologi komputer (perangkat keras dan perangkat lunak) yang digunakan untuk memproses dan menyimpan informasi, melainkan juga mencakup teknologi komunikasi untuk mengirimkan informasi.

Dari apa yang dikemukakan para pakar tersebut dapatlah disimpulkan bahwa teknologi informasi adalah segala bentuk teknologi yang bisa digunakan untuk mengolah, menyimpan, mengirimkan, menemukan informasi dalam bentuk elektronis.

F.1.2.  Peran Teknologi Informasi di perpustakaan

Banyak kegiatan yang bisa didekati  dengan menggunakan  Teknologi Informasi.  Berbagai manfaatdan kemudahan dapat dirasakan oleh manusia. Adanya handphone memudahkan kita dalam menerima dan mengirim pesan. ATM memudahkan dalam pengambilan uang. Demikian juga dengan kegiatan yang ada di perpustakaan.  Dengan mengadopsi teknologi informasi di perpustakaan, banyak kegiatan yang bisa dikembangkan, misalnya katalog online, koleksi digital ataupun akses perpustakaan digital yang bisa diakses secara online melalui internet. Banyak kegiatan yang bisa dilakukan dengan tenologi informasi. Line dalam Qulyubi[3]mengemukakan dua alasan yang berkaitan dengan pengembangan sistem komputer di perpustakaan:

  • penyediaan jasa dengan biaya murah dan perolehan keuntungan dengan pengeluaran yang minimal, dimana pengembangan sistem memungkinkan penyediaan akses pada online katalog di perpustakaan dan penelusuran yang luas pada literatur yang sudah tersimpan dalam CD-ROM serta kemampuan dalam pembuatan informasi manajeman.
  •  untuk menyediakan sistem standar yang bisa dipakai bersama di antara perpustakaan yang bekerja sama, tugas-tugas perpustakaan dapat diselesaikan lebih akurat, cepat dan terkontrol.

Sedangkan menurut Abdul Kadir[4] (2003:18) secara garis besar peranan TI adalah:

  • TI menggantikan peran manusia, dimana TI melakukan otomasi terhadap suatu tugas atau proses.
  • Teknologi memperkuat peran manusia, yakni dengan menyajikan informasi terhadap suatu tugas atau proses.
  • TI berperan dalam restrukturisasi terhadap peran manusia. Teknologi berperan dalam melakukan perubahan-perubahan terhadap sekumpulan tugas atau proses.

F.1.4. Perkembangan pemanfaatan komputer di perpustakaan

[5]Marquardt dalam Siregar, membagi perkembangan fungsi otomasi perpustakaan ke dalam dua fase:

Fase pertama, fungsi yang diotomasi antara lain adalah sistem sirkulasi, pengatalogan, dan pengadaan. Penggunaan komputer untuk pengawasan sirkulasi (circulation control) telah menggantikan kegiatan manual  seperti:  kegiatan memfile kartu-kartu buku (check-out cards), perhitungan denda dan pembuatan surat tagihan untuk buku yang terlambat dikembalikan.

Pada tahun 1970-an kegiatan pembuatan kartu katalog dengan menggunakan komputer. Dari kegiatan ini dapat diperoleh satu set atau lebih kartu  katalog yang diperlukan. Kemudian pada tahun 1980an  muncul katalog talian (katalog online) menggantikan kartu katalog yang ada.

Fase kedua, munculnya OPAC (online public acces catalog) menawarkan lebih banyak titik akses, seperti melalui pengarang, judul, subyek. Opac juga bisa diakses melalui nomor panggil dan penerbit, ditambah bolean logic, dan batasan penelusuran oleh bahasa atau format dokumen. Disamping OPAC, dengan meningkatnya permintaan artikel-artikel jurnal yang tidak dimiliki perpustakaan, maka menghasilkan berbagai pangkalan data bibliografis dalam CD-ROM. Ada empat alternatif untuk mengakses CD-ROM yaitu: local mainframes, stand-alone Cd-ROM, local area network atau internet. Disamping itu katalog perpustakaan lain juga dapat diakses dalam internet melalui Gophers atau www (worl wide web).

F.1.5 Kendala dan Tantangan Perpustakaan

Kondisi perpustakaan saat ini boleh dikatakan sudah semakin membaik. Pustakawan sudah banyak yang menguasai ilmu perpustakaan. Namun dengan perkembangan teknologi informasi saat ini, perpustakaan masih dihadapkan dengan berbagai tantangan, diantaranya, manajemen perpustakaan yang masih konvensional yang sudah saatnya dilakukan perubahan, adanya masyarakat yang masih kesulitan dalam akses informasi, penyediaan sumber informasi lain seperti bahan audio visual dan multimedia, pengelolaan local content, permasalahan e-literacy dan e-technology pustakawan maupun pemustaka,  juga tidak kalah penting adalah permasalahan SDM perpustakaan , dimana sampai saat ini pustakawan masih terjebak dengan rutinitas kegiatan perpustakaan, juga adanya pustakawan konvensional yang gagap TI dan tidak mau menerima perubahan adanya penggunaan teknologi informasi di perpustakaan.Semua itu menjadi permasalahan yang kompleks di perpustakaan. Sehingga permasalahan SDM Perpustakaan juga harus dilihat pada aspek kemampuan, pengetahuan dan ketrampilan, serta sikap mental.Hernandono mengemukakan tentang karakteristik secara umum sumber daya perpustakaan  terutama pustakawan Indonesia, sebagai berikut:[6]

  1. Sebagian pustakawan Indonesia pada umumnya mengidap gejala” sindrom autis”, yaitu seorang yang sibuk dengan dunianya sendiri, dan tidak suka bila orang lain mengganggu. Hal tersebut dikarenakan pustakawan Indonesia kurang percaya diri dan cenderung tertutup , sulit dan lambat merespon pandangan atau gagasan orang lain yang dirasakan akan mengganggu wilayahnya.sehingga mengakibatkan pustakan sulit menerima perubahan
  2. Sebagian pustakawan Indonesia masih lemah di dalam penguasaan bahasa asing dan teknologi informasi (TI). Padahal salah satu syarat yang harus dimiliki pustakawan saat ini adalah kemampuan komunikasi yang ditandai kemampuan berbahasa asing dan tidak gagap teknologi.
  3. Sebagian pustakawan tidak banyak menulis, apalagi dalam penulisan karya bersama. Ungkapan “to publish or perish” kiranya belum menyentuh  pustakawan untuk menyadari pentingnya menulis.
  4. Sebagian pustakawan Indonesia sejauh ini bekerja sebagai burung dengan sebelah sayap. Pengertian kerja mandiri yang yang dibanggakan pustakawan banyak ditafsirkan secara sempit. Mereka sibuk bekerja sendiri-sendiri yang menimbulkan egoisme sektoral yang menyebabkan egoisme individu dan akhirnya membentuk pola pikir terkotak-kotak antar unit kerja dan bahkan antar institusi.

Permasalahan-permasalahan tersebut merupakan tantangan bagi pustakawan. Pustakawan harus bisa menyikapi setiap tantangan dengan arif dan bijak. Pusakawan harus bekerja keras dan bersikap profesional dalam menghadapi setiap tantangan yang ada, yaitu dengan meningkatkan dan mengembangkan kompetensi pribadi yang dimilikinya dan kompetensi kepustakawanannya.

 

 

F.1.6 Dampak Penggunaan TI

Satu sisi pemanfaatan TI di perpustakaan akan membawa kemudahan, disisi lain menimbulkan kemalasan dan ketergantungan.  Dampak TI terhadap staf perpustakaan menurut Ariyanto[7] adalah:

  1. Bebankerjameningkat
  2. Staff tidakberkurang
  3. Komputermemerlukanperawatan
  4. Perlumeningkatkan skill
  5. Menanggalkanbeberapakeahlian di masalampau
  6. Kerjamenjaditergantungteknologi

Sedangkan menurut Marcus dalam Pendit, ada 3 sumber penolakan  (resistensi) manusia terhadap sistem informasi.[8]

  • di dalam diri orang atau kelompok dalam sebuah organisasi,
  •  sifat dan karakter teknologi yang terkandung sistem informasi
  •  interaksi antara karakteristik orang dalam suatu organisasi dankarakteristik sistem itu sendiri

Dari beberapa dampak TI tersebut kiranya perlu disikapi  dari sisi positifnya bahwa penggunaan teknologi Informasi di perpustakaan adalah untuk kemudahaan dan efisiensi pekerjaan, baik untuk pustakawan  maupun  pemakai perpustakaan.

F.2. Peran Pustakawan di era Teknologi Informasi

Abad sekarang dikenal orang dengan Abad 21 atau millenium ke tiga, abad informasi, era keterbukaan, era globalisasi ataupun era teknologi informasi. Menurut Zuntriana, [9]Perkembangan TIK, terutama teknologi internet generasi ke 2 (web.2.0) memaksa pustakawan untuk mulai beralih paradigma dan melakukan reposisi terhadap perannya selama ini. Berbagai perubahan yang dibawa oleh library 2.0 mensyaratkan adanya transformasi dalam diri pustakawan, berupa peningkatan kapasitas, kompetensi, kecerdasan, dan perbaikan sikap.Librarian 2.0 harus memiliki kemauan untuk berbagi, bersahabat, bergaul, mahir menulis, dan aktif dalam berbagai jejaring sosial. Disamping pustakawan 2.0 adalah pustakawan yang dapat bergerak aktif membangun kemampuan literasi pengguna, baik di dunia nyata maupun maya, bersikap pro aktif, dan mampu melakukan transfer pengetahuan. Selanjutnya untuk menjadi Librarian 2.0, ada persyaratan-persyaratan (Abram dalam Zuntriana), antara lain:

  • Memahami benar-benar berbagai manfaat yang ditawarkan oleh web 2.0,
  • Mau mempelajari alat dan perangkat utama web 2.0 dan Library 2.0,
  • Mampu memadukan formt koleksi digital dan tercetak,
  • Mampu mengakses informasi dalam berbagai format,
  • Mampu menggunakan informasi non tekstual, seperti gambar, suara, citra bergerak,
  • Menggunakan dan mengembangkan jejaring sosial untuk memperoleh manfaat maksimal,
  • Mampu berkomunikasi dengan orang lain melalui beragam teknologi, seperti telepon, skype, IM, SMS, texting, email, referensi virtual, dlsb.

Terkait dengan peran pustakawan dalam pembangunan teknologi informasi dan komunikasi, Menteri Komunikasi dan Informatika RI dalam Hak mengemukakan:[10]

  1. Pustakawan sebagai “agent of change” dalam masyarakat, selain memiliki kewajiban profesional, juga menerima panggilan moral untuk melakukan percepatan proses pembelajaran masyarakat.
  2. Pustakawan sebagai profesi yang mengabdi kepada kedua kepentingan, yakni warga masyarakat, umat manusia secara umum dan lembaga tempat bekerja, dimana mereka berkewajiban memelihara keseimbangan dan keserasian tugas bagi kemaslahatan umat.
  3. Pustakawan sebagai anggota masyarakat yang memiliki posisi sosial tersendiri yang bersifat khas dan unik, maka mereka diharapkan juga memerankan diri sebagai tokoh informasi dalam pembangunan masyarakat yang lebih dipahami sebagai upaya pemberdayaan masyarakat.

Dari  peran pustakawan di atas dapat disimpulkan bahwa   seorang pustakawan  di era teknologi informasi harus bisa menjadi agen perubahan bagi diri dan masyarakat, serta bisa menempatkan dirinya sebagai manajer informasi bagi masyarakat. Dalam menyikapi  perubahan yang terjadi , ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yakni:[11]

  • Berani menerapkan konsep pemecahan masalah secara sistematis.
  • Berani bereksperimentasi
  • Belajar dari pengalaman diri sendiri
  • Transfer informasi dan pengetahuan
  • Keterlibatan seluruh karyawan.

Bila 5 hal tersebut dikaitkan dengan organisasi perpustakaan, maka yang perlu diperhatikan  adalah yang pertama perpustakaan harus mempunyai konsep yang sistematis dalam menghadapi setiap permasalahan. Jangan biarkan permasalahan menumpuk tanpa suatu solusi. Pimpinan perpustakaanharus berani mengajak staf perpustakaan untuk memecahkan permasalahan. Perpustakaan harus berani berinovasi, mencoba konsep-konsep baru yang inovatif, jangan takut gagal. Karena kesalahan yang produktif lebih baik daripada keberhasilan yang tidak produktif. Pengalaman tersebut dijadikan  perpustakaan untuk belajar dari pengalaman diri sendiri. Dari pengalaman yang di dapat dilakukan evaluasi-evaluasi. Kemudian hasilnya disharekan kepada staf perpustakaan sebagai bentuk transfer informasi dan pengetahuan. Sehingga setiap perubahan yang terjadi merupakan suatu usaha bersama dari pimpinan dan staf perpustakaan. Bila 5 hal tersebut dapat dijalankan diperpustakaan, tentunya tidak akan menimbulkan reaksi yang tidak diinginkan, seperti: [12] keengganan berubah, kurangnya pemahaman mengenai alasan mengapa harus melakukan perubahan, adanya bias organisasi menyangkut kegiatan-kegiatan atau orang-orang tertentu, dan ketakutan terhadap sesuatu yang tidak diketahui.

Sedangkan untuk melakukan perubahan dalam organisasi dibutuhkan suatu metode yang spesifik[13], seperti:

  1. Mengubah mindset melalui pelatihan-pelatihan achievement motivation, team building, ketrampilan-ketrampilan human relations, dan lain-lain.
  2. Menggunakan sekelompok kader yang menjadi agen perubahan.
  3. Mendayagunakan teknologi untuk mencapai keunggulan kompetitif.

Ke tiga metode tersebut bila dikaitkan dengan organisasi perpustakaan, maka perpustakaan harus siap menghadapi setiap perubahan untuk kemajuan perpustakaan, karena perubahan yang dilakukan semata-mata untuk memenuhi kebutuhan informasi pemustaka yang juga selalu berkembang seiring dengan perkembangan zaman.

F.2. 1. Kompetensi Pustakawan di era TI

            Pustakawan dikatakan profesional apabila dia memiliki kompetensi di bidang perpustakaan. Menurut Darmono[14] kompetensi merupakan seperangkat penguasaan kemampuan yang harus ada dalam diri pustakawan agar dapat mewujudkan kinerja profesionalnya secara tepat dan efektif. Kompetensi tersebut berada dalam pribadi diri pustakawan yang bersumber dari kualitas kepribadian , serta pendidikan dan pengalamannya. Kompetensi tersebut meliputi kompetensi intelektual, kompetensi kepustakawanan yang meliputi kompetensi bidang ilmu perpustakaan, kompetensi ICT, kompetensi manajemen, kompetensi berkomunikasi, kompetensi fisik, kompetensi pribadi, kompetensi sosial dan kompetensi spiritual.

Kompetensi Intelektual adalah berbagai perangkat pengetahuan yang ada dalam diri individu pustakawan yang diperlukan untuk menunjang berbagai aspek kinerja sebagai pustakawan. Kompetensi intelektual dasar formalnya adalah tingkat pendidikan yang dimiliki pustakawan. Kompetensi bidang kepustakawanan adalah bahwa seorang pustakawan harus menguasai bidang kepustakawan secara mendalam. Secara umum kompetensi pustakawan yang harus dimiliki adalah:

  1. Penguasaan ilmu perpustakaan dan informasi sebagai kemampuan dasar yang mewarnai ciri profesionalisme dalam bidang yang amat khusus.
  2. Penguasaan bidang ICT sebagai kemampuan untuk memudahkan dan mengoptimalkan kerja organisasi dalam mencapai tujuan dan sarana untuk mengembangkan diri
  3. Penguasaan manajemen sebagai kemampuan unuk mengorganisasikan dan menjalankan institusi perpustakaan
  4. Penguasaan berkomunikasi termasuk penguasaan bahasa asing sebagai alat komunikasi serta kemampuan dalam menyampaikan ide dan gagasan baik secara lisan maupun tertulis.

Disamping kompetensi inti yaitu kompetensi intelektual dan kompetensi bidang kepustakawanan, seorang pustakawan juga perlu memiliki kompetensi lain sebagai pendukung profesi. Menurut Hasan dalam Darmono: kompetensi yang dimaksud adalah:

  1. Kompetensi fisik, adalah perangkat kemampuan fisik yang diperlukan untuk menunjang pelaksanaan tugas-tugas sebagai pustakawan dalam berbagai situasi. Pustakawan harus sehat jasmani dan rohani, mampu bekerja sesuai beban dan jam kerja yang ditentukan.
  2. Kompetensi pribadi, adalah perangkat perilaku yang berkaitan  dengan kemampuan individu dalam mewujudkan dirinya sebagai pribadi yang mandiri untuk melakukan transformasi diri, identitas diri dan pemahaman diri. Mencakup kemampuan dalam memahami diri, mengelola diri, terbuka dan bertanggung jawab, mengendalikan diri,  menghargai diri sebagai pustakawan , dan mempunyai integritas tinggi terhadap profesinya.
  3. Kompetensi sosial, adalah perangkat perilaku tertentu yang merupakan dasar dari pemahaman diri sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari lingkungan sosial serta tercapainya interaksi sosial secara efektif. Mencakup kemampuan interaktif dan pemecahan masalah kehidupan sosial.
  4. Kompetensi spiritual, adalah pemahaman, penghayatan serta pengalaman kaidah-kaidah keagamaan dalam kehidupan sehari-hari untuk membentengi diri dalam pergaulan sosialnya baik di masyarakat maupun di lingkungan kerjanya.

 

  1. G.     ANALISA / PEMBAHASAN

Perkembangan Teknologi informasi membawa dampak bagi dunia perpustakaan. Pustakawan sebagai SDM perpustakaan harus melakukan reposisi peran terhadap perkembangan teknologi informasi, bila perpustakaan tidak ingin ditinggalkan pemustakanya. Kegiatan pustakawan yang tadinya dilakukan secara konvensional dengan adanya TI mengalami perubahan. Pustakawan harus bisa mengadopsi teknologi yang berkembang untuk kemajuan perpustakaan. Perkembangan TI juga membawa dampak bagi pemustaka terkait dengan kebutuhan informasi. Pemustaka yang tadinya mencari informasi lansung datang ke perpustakaan,  adanya internet,   informasi bisa diakses dari rumah. Hal tersebut menginspirasi pustakawan untuk mendigitalkan koleksinya untuk kemudahan akses.

Banyak peran yang bisa dilakukan pustakawan terkait dengan teknologi informasi. Pustakawan harus membuka wawasan terhadap peran barunya. Pustakawan tidak cukup  melakukan kegiatan  rutinitas kepustakawanan, tetapi pustakawan di era TI  sudah harus mengedepankan intelektualitas. Tidak hanya kompetensi kepustakawanan saja yang dimiliki, tetapi perlu juga meningkatkan atau mengembangkan  kompetensi intelektual dan kompetensi pendukung lain seperti kompetensi fisik, pribadi, kompetensi sosial dan juga kompetensi spiritual. Seorang pustakawan harus memahami tantangan yang dihadapinya, untuk itu pustakawan perlu menyadari akan pentingya kompetensi yang harus dikembangkan dan dimilikinya.

Terkait dengan perkembangan Teknologi informasi,  pustakawan harus bisa mengikuti perkembangan baru di masyarakat. Pustakawan  sebagai manajer informasi dan agent of change dalam masyarakat, dituntut untuk bisa membantu pemustaka dalam memenuhi kebutuhan informasi yang diperlukan serta membantu memecahkan permasalahan yang dihadapi. Bantuan yang  dapat diberikan pustakawan antara lain misalnya membantu dalam menyiapkan literatur yang dibutuhkan mahasiswa yang sedang melakukan penelitian, memberikan pelatihan-pelatihan kepada pemustaka terkait dengan penggunaan TI di perpustakaan dan layanan informasi yang disediakan perpustakaan, misalnya  bagaimana cara mengakses e-journal yang dilanggan perpustakaan, cara penelusuran informasi di perpustakaan, dsb.

Di samping itu pustakawan harus meningkatkan profesionalisme pustakawan.  Karena peningkatan profesionalisme pustakawan akan menentukan kualitas pustakawan. Dan kualitas pustakawan akan menentukan eksistensi perpustakaan. Pustakawan harus bisa memotivasi dirinya sendiri untuk menjadi profesional yaitu dengan terus belajar dan mengembangkan dirinya dengan mengikuti pelatihan-pelatihan, seminar, melanjutkan pendidikan ataupun mengikuti kursus-kursus yang bisa mendukung tugas profesi dan meningkatkan skill pustakawan, seperti kursus bahasa inggris, kursus komputer, dsb. Semua itu harus dilakukan dengan penuh kesadaran dan semangat yang tinggi.

Bagi pustakawan perkembangan teknologi informasi  harus diambil sisi positifnya, pustakawan harus meningkatkan kemampuan dan ketrampilan  terkait perkembangan TI, pustakawan harus menghadapi perubahan yang terjadi dengan bijak. Pustakawan harus berfikir luas ke depan, bahwa apa yang dilakukan adalah untuk kepentingan pemustaka,  peningkatan profesionalisme pustakawan dan untuk meningkatkan citra perpustakaan di masyarakat.

 

  1. H.     Kesimpulan dan Saran

H.1 Kesimpulan:

Di era teknologi informasi , pustakawan harus bisa melihat jauh ke depan, bahwa saat ini peran pustakawan telah mengalami pergeseran. Pustakawan harus menyadari bahwa tugas yang diembannya penuh dengan tantangan, kompetensi, dan juga permasalahan yang kompleks.

 Oleh karenanya pustakawan perlu mengembangkan diri secara terus menerus. Pustakawan tidak boleh lari / menghindar terhadap perubahan yang ada, tetapi harus bisa menyikapi perubahan tersebut secara bijak. Pustakawan perlu meningkatkan kompetensi . Kompetensi yang dimiliki tidak hanya menyangkut kompetensi kepustakawan, tetapi juga perlu meningkatkan kompetensi intelektual dan juga kompetensi pendukung seperti kompetensi fisik, kompeensi pribadi, kompetensi sosial dan kompetensi spiritual.

Dalam menjalankan perannya sebagai pustakawan di abad TI, pustakawan harus berani bereksperimentasi, membuat inovasi-inovasi baru, mau bercermin dari pengalaman, dan selalu sharing dan transfer informasi dan pengetahuan dan bisa memecahkan persoalan secara sistematis

H.2 Saran

  1.  Di era teknologi informasi pustakawan harus bersifat positif  dan inovatif dalam menghadapi setiap perubahan yang terjadi. Pustakawan  harus bisa mencari pemecahan masalah terhadap setiap persoalan yang dihadapi, jangan pernah berkata bahwa sesuatu tidak dapat dikerjakan. Pustakawan harus selalu berinovasi. Pustakawan harus mengadopsi teknologi sebagai alat yang memungkinkan untuk mendapatkan gagasan untuk pengembangan perpustakaan seperti layanan informasi baru, kemudahan dalam akses informasi dsb.
  2.  Mengingat perkembangan TI yang begitu pesat, pustakawan perlu mengembangkan kompetensi  khusus di bidang TIK sehingga tidak dikenal pustakawan gagap teknologi.
  3. Pustakawan di era TI harus bisa melihat peluang baru baik di dalam maupun di luar perpustakaan, misalnya dengan menjalin kerja sama dengan perpustakaan lain dalam pemanfaatan bersama sumber-sumber informasi (resource sharing), atau berpartisipasi dalam proyek-proyek penelitian.
  4. Perpustakaan sebagai lembaga yang menaungi SDM Perpustakaan, sebaiknya selalu melakukan pembinaan terhadap pustakawan secara terus menerus. Pembinaan ini dimaksudkan untuk peningkatan profesionalisme pustakawan. Karena pustakawan yang profesional diharapkan akan bisa menghadapi setiap perubahan yang terjadi di perpustakaan.

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA:

Ariyanto. Solihin.  2011. Perencanaan Teknologi Informasi.  Hand out Kuliah Sistem Informasi Perpustakaan.PowerPoint. Yogyakarta: UIN SUKA.

Darmono. 2008. Peningkatan Citra dan Pengembangan Profesionalisme Pustakawan: oleh Pustakawan dan Untuk Pustakawan. Kumpulan naskah Pemenang Lomba Penulisan Karya Ilmiah bagi Pusakawan tahun 2006-2007. Jakara: Perpusnas RI.

Hak, Ade Abdul. 2008.  E-Literacy dan Peran Pustakawan di Masyarakat. Kumpulan naskah pemenang lomba penulisan KI bagi pustakwan tahun 2006-2007. Jakarta: Perpusnas

Hernandono. 2008. Merentas kebuntuan Kepustakawanan Indonesia. Dilihat dari Sisi Sumber Daya Tenaga Perpustakaan. dalam Kumpulan Naskah Orasi Ilmiah. Jakarta: Perpusnas.

Kadir, Abdul. 2003. Pengenalan Sistem Informasi. Yogyakarta: Andi.

Pendit, Putu Laxman. Ragam Teori Informasi. ( file .pdf.) Jakarta: PDII LIPI, 2006.

Qalyubi, Syihabuddin. 2003.  Dasar-dasar Ilmu Perpustakaan dan Informasi. Yogyakarta: Jurusan IPI. Fak. Adab UIN SUKA.

Siregar, A. Ridwan. 2004. Perpustakaan energi Pembangunan Bangsa. Medan: Usupress

Zuntriana, Ari. Peran Pustakawan di Era Library 2.0. dalam Visi Pustaka, vol.12, No.2, Agustus 2010. Jakarta: Perpusnas.

 

 

 

 

 

 

 

 


[1] Qalyubi, Syihabuddin. Dasar-dasar Ilmu Perpustakaan dan Informasi. Yogyakarta: Jurusan IPI. Fak. Adab UIN SUKA, 2003, hal. 348

[2] Kadir, Abdul. 2003. Pengenalan Sistem Informasi. Yogyakarta: Andi., hal 13

[3] Qalyubi, Syihabuddin. Ibid, hal. 365.

[4] Kadir, Abdul. Ibid, hal.17.

[5] Siregar, A. Ridwan. 2004. Perpustakaan energi Pembangunan Bangsa. Medan: Usupress. Hal. 51

[6] Hernandono.Merentas kebuntuan Kepustakawanan Indonesia. Dilihat dari Sisi Sumber Daya Tenaga Perpustakaan. dalam Kumpulan Naskah Orasi Ilmiah. Jakarta: Perpusnas, 2008.

[7] Ariyanto. Solihin.  2011. Perencanaan Teknologi Informasi.  Hand out Kuliah Sistem Informasi Perpustakaan.PowerPoint. Yogyakarta: UIN SUKA

[8] Pendit, Putu Laxman. Ragam Teori Informasi. ( file .pdf.) Jakarta: PDII LIPI, 2006. (handout kuliah)

[9] Zuntriana, Ari. Peran Pustakawan di Era Library 2.0. dalam Visi Pustaka, vol.12, No.2, Agustus 2010. Jakarta: Perpusnas.

[10] Hak, Ade Abdul. E-Literacy dan Peran Pustakawan di Masyarakat. Kumpulan naskah pemenang lomba penulisan KI bagi pustakwan tahun 2006-2007. Jakarta: Perpusnas, 2008.

[11] Qalyubi, Syihabuddin. Ibid, hal. 342

[12] Qalyubi, Syihabuddin. Ibid, hal. 348

[13] Qalyubi, Syihabuddin. Ibid, hal. 345

[14] Darmono.Peningkatan Citra dan Pengembangan Profesionalisme Pustakawan: oleh Pustakawan dan Untuk Pustakawan. Kumpulan naskah Pemenang Lomba Penulisan Karya Ilmiah bagi Pusakawan tahun 2006-2007. Jakara: Perpusnas, 2008.

Resensi Buku: “Perpustakaan dan Buku: wacana penulisan dan penerbitan”

Buku dan perpustakaan adalah dua hal yang saling mengkait, dimana perpustakaan selalu identik dengan sumber informasi yang salah satunya adalah buku. Sebagai karya kreasi manusia , buku dapat  menginterpretasikan kebudayaan yang ada, menyebarkan  informasi dan ilmu pengetahuan ke masyarakat luas.

Buku ini terdiri atas 8 bab , memaparkan tentang dunia buku, yang diawali dari dunia perpustakaan, aspek-aspek yang ada dalam sebuah buku, terbitan buku  di perpustakaan, tentang katalog, KDT, dan ISBN, Haki sampai bagaimana teknis menulis buku. Disajikan dengan bahasa  yang  sederhana  dan mudah dipahami. Buku ini cocok bagi pembaca yang mencintai dunia perpustakaan dan perbukuan pada umumnya dan masyarakat luas yang ingin menambah pengetahuan khususnya di bidang  perpustakaan dan  perbukuan. (hyn)

Data bibliografi:

Perpustakaan dan buku: wacana penulisan & penerbitan/ Wiji Suwarno.—

Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2011.

140hlm., bib., ind.; 21cm.

ISBN: 978-979-25-4864-8

 

PENDIDIKAN LITERACY INFORMASI DI PERPUSTAKAAN PERGURUAN TINGGI

A.     PENDAHULUAN

Di abad sekarang ini informasi menjadi bagian yang sangat penting dalam hampir setiap aspek kehidupan manusia, tak terkecuali di dunia perguruan tinggi.  Informasi bisa menjadi media belajar, menjadi bahan sumber penelitian ,  media komuniasi , dsb yang bisa menunjang proses belajar mengajar di Perguruan Tinggi.  Dari kenyataan tersebut , dibutuhkan suatu kemudahan dalam pencarian informasi untuk memenuhi kebutuhan pemustaka.

Tujuan didirikannya perpustakaan perguruan tinggi adalah untuk mendukung, memperlancar serta meningkatkan kualitas pelaksanaan program kegiatan perguruan tinggi melalui pelayanan informasi yang meliputi aspek-aspek pengumpulan, pengolahan, pemanfaatan dan penyebarluasan informasi. Sedangkan peranan perpustakaan perguruan tinggi adalah sebagai sarana kelengkapan pusat suatu perguruan tinggi yang lebih bersifat akasdemis dalam menunjang pelaksanaan Tri Dharmanya di bidang pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengabdian masyarakat.

Terkait dengan peran dan tugas perpustakaan perguruan tinggi, maka perpustakaan perlu melakukan program pendidikan pemakai agar bahan pustaka atau koleksi yang tersedia di perpustakaan dapat  disebarluaskan dan dimanfaatkan secara efektif dan efisien. Salah satu program pendidikan pemakai yang sangat penting dilaksanakan adalah pendidikan literasi  informasi . Karena literasi informasi adalah prasarat untuk pembelajaran sepanjang hayat (lifelong learning) untuk semua disiplin ilmu dan tingkatan pendidikan yang memungkinkan para siswa (learners) memahami isi informasi secara kritis dan mengembangkan pemahaman mereka secara mandiri dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi. (Arif, 2008)

Mengingat arti pentingnya literasi informasi bagi pemustaka, maka program ini perlu terus dilaksanakan di Perpustakaan Perguruan Tinggi.Dengan kegiatan ini, pemustaka diharapkan sudah mengetahui apa yang menjadi kewajiban dan hak-hak yang melekat padanya, mereka tidak lagi bingung bagaimana cara memanfaatkan layanan yang ada, karena mereka sudah memahami sistem organisasi perpustakaannya.

B.      PERMASALAHAN

Perpustakaan merupakan sumber informasi.  Oleh karenanya perpustakaan merupakan jembatan bagi terjadinya proses belajar, transfer informasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang memungkinkan apa yang dimiliki perpustakaan dapat dimanfaatkan oleh pemustakanya. Namun kenyataan yang kita lihat sekarang ini, masih banyak pemustaka yang bingung dalam memanfaatkan perpustakaan. Hal tersebut terutama terjadi pada mahasiswa baru. Mereka rata-rata belum memiliki pengetahuan dasar bagaimana menggunakan perpustakaan dan bagaimana menggali informasi yang ada di perpustakaan

Literasi informasi merupakan salah satu program pendidikan pemakai perpustakaan (user education programme) bagi mahasiswa perguruan tinggi.  Berbagai alasan dikemukakan mengapa program tersebut dilaksanakan oleh perpustakaan, al:

1.     Kemampuan mahasiswa dalam memanfaatkan perpustakaan merupakan dasar yang amat penting dalam mencapai keberhasilan pendidikan.

2.   Selain itu perpustakaan diharapkan mampu berfungsi dalam mendidik mahasiswa untuk menjadi pemustaka yang tertib dan bertanggungjawab.

3.   Di sisi lain perpustakaan senantiasa mengupayakan agar segala kekayaan dalam bentuk koleksi, baik tercetak maupun terekam, dengan segala fasilitas dan pelayanannya, dapat digunakan secara maksimal oleh pemustaka.

C.      PEMBAHASAN

Hubert J. Gijzen dalam Arif mengartikan Literacy informasi sebagai ketrampilan yang mencakup kemampuan untuk menyadari kapan informasi dibutuhkan, mengidentifikasi informasi yang dibutuhkan beserta sumber-sumbernya, menempatkan dan mengakses informasi secara efektif dan efisien , mengevaluasi informasi secara kritis, menata dan menggabungkan informasi ke dalam pengetahuan, menggunakan informasi secara legal dan etis, dan mengkomunikasikan informasi tersebut.

Hal tersebut senada dengan yang diungkapkan Wijaya dalam Hak (2008) bahwa terdapat lima aspek terkait yang merupakan integrasi dan aplikasi kemampuan kognitif dan teknis yaitu:

  1. Access (akses): mengetahui tentang dan mengetahui bagaimana mengumpulkan dan mendapatkan informasi.
  2. Manage (mengelola): menerapkan skema klasifikasi atau organisasi
  3. Integrate (mengintegrasikan): menginterpretasikan dan menggambarkan ulang informasi, termasuk di dalamnya membuat ringkasan, membandingkan, dan menggarisbawahi.
  4. Evaluate (mengevaluasi): memutuskan tentang kualitas, keterkaitan, kegunaan, atau efisiensi informasi.
  5. Create (menciptakan) : menciptakan informasi baru dengan cara mengadopsi,menerapkan, mendesain, membuat atau menulis informasi.

Aspek-aspek tersebut terintegrasi dalam kemampuan yang bersifat kognitif (teori) sebagai kemampuan dasar yang kita butuhkan setiap saat seperti di  sekolah, tempat kerja antara lain berupa kemampuan memecahkan masalah, numerik dan visualisasi. Sedangkan kemampuan teknis (praktis) dapat diartikan sebagai kemampuan memahami perangkat keras, perangkat lunak, jaringan dan elemen teknologi digital.

Dari dua pendapat tersebut dapat diketahui bahwa literasi informasi sangat dibutuhkan dalam era informasi sekarang ini, baik di sekolah, tempat kerja dan kehidupan bermasyarakat. Untuk itu peran pustakawan terutama pustakawan perguruan tinggi sangat diperlukan dalam menyampaikan program literacy informasi untuk menunjang proses belajar mengajar di perguruan tinggi.

Mengenai kapan pendidikan literasi informasi  dilaksanakan, tergantung perpustakaan untuk mengadakan kegiatan tersebut.Pelaksanaan pendidikan literasi informasi ini terkait dengan kegiatan pendidikan pemakai perpustakaan. Ada beberapa perpustakaan perguruan tinggi  yang melaksanakan program ini sebagai program wajib bagi setiap pemakai perpustakaan, yang dilaksanakan secara kontinyu dan terjadwal.Tempat pelaksanaan dapat di perpustakaan atau fakultas, disesuaikan dengan fasilitas yang ada. Tetapi nampaknya perpustakaan merupakan salah satu altematif terbaik sebagai tempat penyelenggaraan pendidikan pemakai, mengingat perpustakaan merupakan unsur pendukung terpenting dalam penyelenggaraan program pendidikan pemakai. Tentu saja perpustakaan harus menyelenggarakan kerja sama dengan fakultas agar kegiatan tersebut dapat berjalan dengan baik.

Kegiatan literasi informasi juga merupakan bagian dari Instruksi perpustakaan yang bertujuan agar para pemakai dapat memperoleh informasi yang diperlukan dengan tujuan tertentu dengan menggunakan semua sumber daya dan bahan yang tersedia di perpustakaan. Instruksi perpustakaan berkaitan dengan temu kembali informasi.

Menurut Rahayuningsih (2005), ada bermacam-macam tujuan yang hendak dicapai, diantaranya adalah :

  1. Agar pemakai menggunakan perpustakaan secara efektif dan efisien.
  2. Agar pemakai dapat menggunakan sumber-sumber literatur  dan dapat menemukan informasi yang relevan dengan masalah yang dihadapi.
  3. Memberi pengertian kepada mahasiswa akan tersedianya informasi di perpustakaan dalam bentuk tercetak atau tidak.
  4. Memperkenalkan kepada mahasiswa jenis-jenis koleksi dan ciri-cirinya.
  5. Memberikan latihan atau petunjuk dalam menggunakan perpustakaan dan sumber-sumber informasi agar pemakai mampu meneliti suatu masalah, menemukan materi yang relevan , mempelajari dan memecahkan masalah.
  6. Mengembangkan minat baca pemakainya
  7. Memperpendek jarak antara pustakawan dengan pengguna.

Dalam memanfaatkan teknologi informasi dan menggali informasi di perpustakaan ada perbedaan kemampuan, hal tersebut sangat tergantung pada kemampuan literasi informasi dan literasi teknologi setiap individu. Terkait dengan tingkatan pemakai dalam memanfaatkan informasi, ada kerangka konsep yang dikutip Indrajit dalam Hak (2008) tentang Personal Capability Maturity Model (P-CMM) yang menggambarkan level e-lieracy seseorang, yaitu:

  1. Level 0 – Jika seorang individu sama sekali tidak tahu dan tidak peduli akan pentingnya informasi dan teknologi untuk kehidupan sehari-hari.
  2. Level 1 – Jika seorang individu pernah memiliki pengalaman satu dua kali di mana informasi merupakan sebuah komponen penting untuk pencapaian keinginan dan pemecahan masalah, dan telah melibatkan teknologi informasi maupun komunikasi untuk mencarinya.
  3. Level 2 – Jika seorang individu telah berkali-kali menggunakan teknologi informasi dan komunikasi untuk membantu aktivitasnya sehari-hari dan telah memiliki pola keberulangan dalam penggunaannya.
  4. Level 3 – Jika seorang individu telah memiliki standar penguasaan dan pemahaman terhadap informasi maupun teknologi yang diperlukannya, dan secara konsisten mempergunakan standar tersebut sebagai acuan penyelenggaraan aktivitasnya sehari-hari.
  5. Level 4 – Jika seorang  individu telah sanggup meningkatkan secara signifikan (dapat dinyatakan secara kuantitatif) kinerja aktivitas kehidupannya sehari-hari melalui pemanfatan informasi dan teknologi; dan
  6. Level 5 – jika seorang individu telah menganggap informasi dan teknologi sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari aktivitas sehari-hari, dan secara langsung telah mewarnai perilaku dan budaya hidupnya (bagian dari Information society atau manusia berbudaya informasi). (Sumber: Menteri Komunikasi dan Informatika RI, 2006:42)

Dari kerangka konsepPersonal Capability Maturity Model (P-CMM) tersebut, bila kita kaitkan dengan pemustaka perguruan tinggi, maka untuk kegiatan literasi informasi dapat kita bagi sesuai dengan tingkatan literasi pemustaka.

Pelaksanaan pendidikan literasi informasi bisa kita masukkan dalam program pendidikan pemakai yang  dapat dilakukan dengan tiga tingkatan antara lain:

a.  Tingkatan orientasi

Orientasi ini biasanya dilakukan pada mahasiswa baru pada awal mengikuti kegiatan P-4. Kegiatan pendidikan pengguna yang disatukan dalam penataran tersebut diberikan pada materi khusus yang diselenggarakan selama kurang lebih 2 jam. Dengan materi mengenai. pentingnya perpustakaan, jam buka perpustakaan. sarana temu kembali informasi, jasa perpustakaan.jenis koleksi yang dimiliki oleh suatu perpustakaan dan peraturan perpustakaan. Metode pendidikan pengguna yang dapat digunakan adalah ceramah dengan prinsip pengenalan. kunjungan perpustakaan dan demonstrasi atau peragaan.

Pelaksanaan dalam pemberian pendidikan pemakai pada tingkat ini adalah minimal pustakawan dengan kualifikasi setingkat sarjana muda ilmu perpustakaan.

b.  Pendidikan pemakai pada tingkatan tertentu.

Pendidikan pemakai pada tingkatan tertentu ini, ada yang melalui jalur kurikulum, ada juga melalui bimbingan individu atau kelompok (non kurikulum). Pada jalur kurikulum ada yang dititipkan pada metodologi penelitian, ada yang masuk ajaran pengantar perpustakaan dan ada juga yang memasukkan kedalam ajaran penelusuran literatur. Dengan alokasi waktu selama satu semester dengan 2 SKS. Untuk jalur non kurikulum (bimbingan individu/kelompok) pendidikan pemakai  dapat dilakukan oleh pustakawan dengan cara bimbingan langsung pada masing-masing pemustaka. Dapat juga dibuka kelas pada jumlah tertentu dan dilaksanakan pendidikan pemakai.

Materi pendidikan pemakai pada tingkatan ini sama dengan materi orientasi, namun ada penekanan dalam materi penggunaan sarana temu kembali informasi (katalog, indeks, abstrak dan bibliografi) juga penelusuran informasi otomasi.

Staf pelaksananya bisa pustakawan atau yang berkualifikasi sarjana muda bidang ilmu perpustakaan. Untuk materi praktek di perpustakaan bisa dibantu oleh asisten pustakawan. Metode yang cocok adalah ceramah, demonstrasi dan praktek/latihan.

c.  Pendidikan pemakai pada peserta Pascasarjana

Pendidikan pemakai program pascasarjana ini biasanya peserta terdiri dari berbagai disiplin ilmu. Karena para peserta selalu melakukan penelitian, mereka selalu membutuhkan referensi yang lengkap dan mutahir dari jurnal, bibliografi dan sumber informasi tentang penelitian lain. Mereka sering melakukan wawancara dan dialog dengan pustakawan yang kompeten untuk mendiskusikan penelusuran informasi yang kadang sangat spesifik. Untuk kebutuhan seperti ini diperlukan adanya pustakawan spesialis atau setidaknya pustakawan yang telah mendalami bidang layanan minat tersebut dengan cukup pengalaman, sehingga mudah untuk memahami terminologi khusus yang kadang diperlukan pengguna.

Pada tingkat ini, pendidikan pemakai dapat dilaksanakan setiap tahun atau 2 x setahun. Materi yang diberikan sama dengan tingkat pendidikan pemakai yang lain tetapi ada penekanan pada materi penelusuran baik manual maupun terotomasi juga pemakaian bibliografi hasil-hasil penelitian. Staf pelaksana setidaknya berkualifikasi setingkat S-1 dan S-2 ilmu perpustakaan. Untuk pelaksanaan praktek bisa dibantu asisten pustakawan.

Metode penyampaian yang cocok untuk program tingkat ini adalah : dibagikan makalah, ceramah, praktek penelusuran, dan soal-soal latihan, misal dengan membuat panduan pustaka (“path finder”)

Adapun cara dan waktu pelaksanaan pendidikan pengguna berbeda-beda, misalnya :

  1. Ada yang memasukkan program pada saat orientasi studi dan pengenalan kampus (ospek),
  2. Ada pula yang memasukkan dalam mata kuliah tertentu. Pendidikan pengguna dimasukkan dalam mata kuliah kapita selekta dengan 2 SKS dan bersifat wajib.
  3. Ada yang mewajibkan mahasiswa baru mengikuti progam sebagai syarat mendapatkan kartu anggota perpustakaan tetapi ada yang tidak mewajibkan mahasiswa baru dan hanya melayani mereka yang berminat.
  1. D.     KESIMPULAN
  2. Pengertian Literacy informasi berkaitan dengan ketrampilan pemustaka yang mencakup kemampuan untuk menyadari kapan informasi dibutuhkan, mengidentifikasi informasi yang dibutuhkan beserta sumber-sumbernya, menempatkan dan mengakses informasi secara efektif dan efisien , mengevaluasi informasi secara kritis, menata dan menggabungkan informasi ke dalam pengetahuan, menggunakan informasi secara legal dan etis, dan mengkomunikasikan informasi tersebut.
  3. Ada beberapa hal mengapa program pendidikan literasi informasi perlu dilakukan di perpustakaan perguruan tinggi : (1) Kemampuan mahasiswa dalam memanfaatkan perpustakaan merupakan dasar yang amat penting dalam mencapai keberhasilan pendidikan, (2). Selain itu perpustakaan diharapkan mampu berfungsi dalam mendidik mahasiswa untuk menjadi pemustaka yang tertib dan bertanggungjawab. (3). perpustakaan senantiasa mengupayakan agar segala kekayaan dalam bentuk koleksi, baik tercetak maupun terekam, dengan segala fasilitas dan pelayanannya, dapat digunakan secara maksimal oleh pemustaka.
  4. Ada beberapa cara dalam melaksanakan literasi informasi di perpustakaan perguruan tinggi, yaitu bisa melalui  orientasi studi dan pengenalan kampus (ospek), dimasukkan dalam mata kuliah tertentu, ada juga yang mewajibkan mahasiswa baru mengikuti progam literasi informasi yang dimasukkan dalam pendidikan pemakai  perpustakaan sebagai syarat mendapatkan kartu anggota perpustakaan.

DAFTAR PUSTAKA

Arif, Ikhwan. 2008.  Peran Pustakawan dalam mengembangkan program literasi informasi di sekolah. Kumpulan Naskah Pemenang Lomba Penulisan Karya Ilmiah bagi Pustakawan tahun 2006-2007. Jakarta: Perpusnas.

Hak, Ade Abdul. 2008. E-Literacy dan peran pustakawan di masyarakat.Kumpulan Naskah Pemenang Lomba Penulisan Karya Ilmiah bagi Pustakawan tahun 2006-2007. Jakarta: Perpusnas.

Rahayuningsih, F. 2005. Mengkaji pentingnya pendidikan pemustaka. Info Persadha Vol.3/No.2/Agustus 2005.

 

MENGAPA MEMILIH JADI PUSTAKAWAN?

A. LATAR BELAKANG

Dewasa ini masyarakat Indonesia sedikit banyak telah mengenal atau mengetahui perpustakaan dan pustakawan melalui media massa yang ditulis sebagai artikel atau berita biasa di radio dan televisi. Sekolah-sekolah perpustakaan pun telah banyak didirikan, dan seminar-seminar untuk peningkatan perpustakaanpun telah banyak diselenggarakan. Pustakaan boleh sedikit merasa bangga perjuangannya selama ini sudah mulai didengar dan diperhatikan.

Jabatan fungsional Pustakawan di lingkungan lembaga instansi perpustakaan, dokumentasi dan informasi lembaga pemerintah telah berjalan    yang pada awalnya diatur dengan Keputusan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara (KEP. MENPAN) Nomor 18 tahun 1988.

Dalam keputusan tersebut jenjang jabatan Pustakawan diatur dalam 12 tingkat penjenjangan dimulai dari pangkat II/b (Asisten Pustakawan Madya) sampai dengan pangkat tertinggi IV/e (Pustakawan Utama). Sistem penjenjangan jabatan Pustakawan bersifat melekat antara pangkat dan jabatan, artinya setiap jabatan memiliki satu pangkat tertentu dalam sistem kepangkatan PNS. Salah satu persyaratan untuk pengangkatan PNS dalam jabatan fungsional Pustakawan adalah minimal berpendidikan Diploma II bidang perpustakaan. Meskipun demikian pada awal masa berlakunya KEP. MENPAN  tersebut di atas, pemerintah Indonesia telah memberi 2 (dua) kali kesempatan pengangkatan “in passing” kepada semua PNS yang berminat meniti karirnya melalui jabatan fungsional Pustakawan. Sistem “in passing “ ini tidak akan diadakan lagi untuk masa berikutnya.

Sejak KEP-MENPAN NO. 18 tahun 1988 diterbitkan, dalam pelaksanaannya di lapangan ada beberapa kendala yang dijumpai oleh Pustakawan antara lain bobot angka kredit per satuan kegiatan dari butir-butir kegiatan yang ada dirasakan terlalu rendah, jenis dan jumlah butir kegiatan Pustakawan yang tercakup dalam keputusan tersebut juga dianggap masih kurang.

Untuk mengatasi kendala tersebut Kantor MENPAN bersama kantor BAKN bersama Perpustakaan Nasional RI berupaya menyempurnakan/ menata kembali Keputusan tersebut dengan menerbitkan Keputusan MENPAN Nomor 33/1998 tentang jabatan fungsional Pustakawan dan angka kreditnya, sebagai pengganti KEPMEN No. 18 tahun 1988. Keputusan tersebut diikuti dengan terbitnya Keputusan Bersama Kepala Perpustakaan Nasional RI dan Kepala Badan Administrasi Kepegawaian Negara No. 07 tahun 1998 dan No. 59 tahun 1998 tentang Petunjuk Pelaksanaan Jabatan Fungsional Pustakawan dan Angka Kreditnya, sebagai pedoman dalam pelaksanaan KEP-MENPAN No. 33/1998. Dalam KEP MENPAN No. 33/1998. Jabatan Fungsional Pustakawan dibedakan dalam 2 (dua) kelompok yaitu Asisten Pustakawan dan Pustakawan.

Seiring dengan keluarnya UU No. 22 Tahun 1990 tentang OTDA, ketentuan yang tercantum dalam keputusan MENPAN No. 33/1998 banyak yang sudah tidak relevan lagi. Ketentuan tersebut antara lain tentang Tim Penilai Wilayah yang sudah tidak ada lagi, sebagai konsekuensi hapusnya Kantor Wilayah Departemen Pendidikan Nasional. Selain itu dengan keluarnya Keppres No. 87 Tahun 1999, nama jabatan fungsional pustakawan juga perlu disesuaikan kembali berdasarkan ketentuan yang diatur dalam Keppres tersebut. Sehubungan dengan hal tersebut, terbit keputusan MENPAN No. 132/KEP/MENPAN/12/2002 tentang jabatan fungsional Pustakawan dan Angka Kreditnya yang mengatur kembali tentang Tim Penilai, nama jabatan dan lain-lain yang berhubungan  seperti pembebasan sementara dan pemberhentian dari jabatan. Keputusan ini juga dilengkapi dengan terbitnya SKB Kepala Perpustakaan Nasional RI dan Kepala Badan Kepegawaian Negara Nomor 23 Tahun 2003 dan Nomor 21 Tahun 2003 tentang Petunjuk Pelaksanaan Jabatan Fungsional Pustakawan dan angka kreditnya yang memuat aturan-aturan pokok yang harus diikuti dalam pelaksanaan Jabatan Fungsional Pustakawan

B. PENGERTIAN PUSTAKAWAN

Pustakawan adalah Pegawai Negeri Sipil yang diberi tugas, tanggung jawab, wewenang dan hak secara penuh oleh pejabat yang berwenang untuk melakukan kegiatan kepustakawanan pada unit-unit perpustakaan, dokumentasi dan informasi pemerintah dan atau unit tertentu lainnya.

Pustakawan terdiri dari :

  1. Pustakawan Tingkat Terampil adalah Pustakawan yang dasar pendidikan untuk pengangkatannya pertama kali serendah-rendahnya Diploma II Perpustakaan, Dokumentasi dan Informasi atau Diploma II bidang lain yang disetarakan.
  2. Pustakawan Tingkat Ahli adalah Pustakawan yang dasar pendidikan untuk pengangkatannya pertama kali serendah-rendahnya Sarjana Perpustakaan. Dokumentasi dan Informasi atau Sarjana bidang lain yang disetarakan.

C. TUGAS POKOK PEJABAT FUNGSIONAL PUSTAKAWAN

Penugasan kepada pejabat fungsional Pustakawan harus disesuaikan dengan tugas pokok sesuai jenjang jabatannya. Hal ini dimaksudkan agar pejabat fungsional Pustakawan melaksanakan tugasnya sesuai dengan tugas pokoknya dan yang bersangkutan dapat mengumpulkan angka kredit sesuai tugas yang menjadi tanggung jawab. Dengan demikian akan terjadi pemerataan pekerjaan di antara pejabat fungsionalnya sesuai jenjang jabatannya.

Tugas Pokok Pustakawan Tingkat Terampil:

  1. Pengorganisasian dan pendayagunaan koleksi bahan pustaka /bahan informasi.
  2. Pemasyarakatn perpustakaan, dokumentasi dan informasi.

Tugas Pokok Pustakawan Tingkat Ahli:

  1. Pengorganisasian dan pendayagunaan koleksi bahan pustaka / bahan informasi
  2. Pemasyarakatan perpustakaan, dokumentasi, dan informasi
  3. Pengkajian pengembangan perpustakaan, dokumentasi dan informasi.

Disamping melaksanakan tugas pokoknya, pejabat fungsional Pustakawan hendaknya diberi kesempatan untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuannya melalui berbagai pendidikan atau pelatihan, utamanya pendidikan atau pelatihan di bidang perpustakaan, dokumentasi dan informasi. Namun tidak menutup kemungkinan bagi mereka untuk mengikuti diklat lainnya sepanjang diklat tersebut menunjang pelaksanaan tugas pokok dan fungsinya sebagai pejabat fungsional pustakawan. Contohnya : diklat bidang teknologi informasi atau diklat bahasa Inggris.

Dalam rangka pengembangan profesi, pejabat fungsional Pustakawan selain melaksanakan tugas pokok sesuai jenjang jabatannya dapat juga melaksanakan tugas-tugas pengembangan profesi yang meliputi:

1.      Membuat karya tulis/karya ilmiah di bidang perpustakaan, dokumentasi dan informasi (PUSDOKINFO)

2.      Menyusun pedoman/petunjuk teknis PUSDOKINFO

3.      Menerjemahkan/menyadur buku-buku dan bahan lain di bidang PUSDOKINFO

4.      Melakukan tugas sebagai Ketua kelompok /Koordinator Pustakawan atau memimpin unit Perpustakaan.

5.      Menyusun kumpulan tulisan untuk dipublikasikan.

6.      Memberi konsultasi kepustakawanan yang bersifat konsep.

D. TUGAS PENUNJANG

Yang perlu diperhatikan agar Pustakawan tidak melaksanakan tugas penunjang secara berlebihan, karena akan berakibat terabaikannya tugas pokok yang menjadi tanggungjawabnya. Prosentase angka kredit kegiatan penunjang yang dapat diperhitungkan untuk kenaikan pangkatnya sebanyak-banyaknya 20% dari angka kredit yang harus dicapai untuk kenaikan jabatan /pangkat satu tingkat lebih tinggi.

Tugas penunjang meliputi antara lain:

  1. Mengajar
  2. Melatih
  3. Membimbing mahasiswa dalam penyusunan skripsi, tesis dan disertasi yang berkaitan dengan ilmu perpustakaan, dokumentasi dan informasi.
  4. Mengikuti seminar, loka karya dan pertemuan sejenisnya di bidang kepustakawanan.
  5. Memperoleh gelar kesarjanaan lainnya.

E. PENGANGKATAN PERTAMA

Pengangkatan pertama Pegawai Negeri Sipil untuk menduduki jabatan fungsional Pustakawan dapat dilakukan apabila Pegawai Negeri Sipil tersebut telah memenuhi syarat-syarat dan angka kredit yang ditentukan.

  1. Pengangkatan pertama Pegawai Negeri Sipil untuk menduduki jabatan fungsional Pustakawan dapat dilakukan apabila Pegawai Negeri Sipil yang memenuhi syarat sebagai berikut:
    1. Berijazah serendah-rendahnya Diploma II (DII) Perpustakaan, Dokumentasi dan Informasi atau Diploma II (DII) bidang lain untuk diangkat dalam jabatan Pustakawan Tingkat Terampil.
    2. Berijazah serendah-rendahnya Sarjana (SI) Perpustakaan, Dokumentasi dan Informasi atau Sarjana bidang lain untuk diangkat dalam jabatan Pustakawan Tingkat Ahli.
    3. Bagi Diploma II (DII) dan Sarjana (SI) bidang lain, harus mengikuti diklat kepustakawanan dan memperoleh sertifikat yang disetarakan oleh Perpustakaan Nasional RI.
    4. Telah bertugas pada Unit Perpustakaan, dokumentasi dan informasi sekurang-kurangnya selama 2 (dua) tahun berturut-turut yang dibuktikan dengan surat keputusan /penugasan dan pimpinan unit kerja.
    5. Setiap unsur penilaian pelaksanaan pekerjaan dalam DP3 sekurang-kurangnya bernilai baik dalam 2 (dua) tahun terakhir.
    6. Melampirkan surat Penetapan Angka Kredit (PAK) dari pejabat yang berwenang.
    7. Diusulkan oleh pimpinan unit kerja yang bersangkutan.
  2. Pengangkatan pertama kali bagi PNS dari jabatan struktural atau fungsional lain ke dalam jabatan fungsional pustakawan harus memenuhi syarat sebagaimana dimaksud dalam angka 1 serta usia setinggi-tingginya 5 (lima) tahun sebelum mencapai batas usia pensiun dari jabatan terakhir yang didudukinya.
  3. Pangkat PNS yang diangkat dalam jabatan fungsional pustakawan adalah sama dengan pangkat yang dimilikinya sedangkan jenjang jabatannya ditetapkan sesuai dengan angka kredit yang dimilikinya berdasarkan PAK (Penetapan Angka Kredit) yang telah ditetapkan oleh pejabat yang berwenang.
  1. Untuk menentukan jenjang jabatan fungsional pustakawan digunakan angka kredit yang berasal dari kegiatan pendidikan, pengorganisasian, dan  pendayagunaan  koleksi bahan pustaka /sumber informasi, pemasyarakatan perpustakaan, dokumentasi dan informasi, pengkajian pengembangan perpustakaan , dokumentasi dan informasi  (khusus untuk jenjang pustakawan ahli) serta pengembangan profesi.

F. KENAIKAN JABATAN DAN PANGKAT

1)      Kenaikan Jabatan

a)Kenaikan jabatan satu tingkat lebih tinggi dapat diberikan kepada pejabat fungsional pustakawan apabila:

i)        Sekurang-kurangnya telah 1 tahun dalam jabatan terakhir

ii)      Dipenuhi angka kredit minimal yang ditentukan untuk kenaikan jabatan satu tingkat lebih tinggi, dengan melampirkan PAK yang telah ditetapkan  oleh pejabat yang berwenang.

iii)    Setiap unsure penilaian pelaksanaan pekerjaan dalam DP3, sekurang-kurangnya bernilai baik dalam 1 tahun terakhir.

iv)    Diusulkan oleh pimpinan unit yang bersangkutan.

b)      Pejabat Fungsional Pustakawan yang mengalami kenaikan jabatan satu tingkat lebih tinggi dalam waktu 1 tahun, maka pada tahun ke-2 yang bersangkutan diwajibkan mengumpulkan angka kredit sekurang-kurangnya 20% dari jumlah angka kredit yang disyaratkan untuk kenaikan pangkat setingkat lebih tinggi dari kegiatan pengorganisasian dan pendayagunaan koleksi bahan pustaka /sumber informasi, Pemasyarakatan perpustakaan, dokumentasi dan informasi., Pengkajian pengembangan perpustakaan, dokumentasi dan informasi (khusus untuk jenjang pustakawan tingkat ahli)

2)      Kenaikan Pangkat

  1. Kenaikan pangkat dalam jabatan fungsional pustakawan dapat dipertimbangkan apabila memenuhi persyaratan sebagai berikut:
    • Telah menduduki pangkat terakhir sekurang-kurangnya selama 2 tahun
    • Memenuhi angka kredit yang dipersyaratkan untuk kenaikan pangkat satu tingkat lebih tinggi.
    • Setiap unsur penilaian pelaksanaan pekerjaan dalam DP3 sekurang-kurangnya bernilai baik dalam 2 tahun terakhir.
    • Diusulkan oleh pimpinan unit yang bersangkutan.
  2. Pejabat fungsional pustakawan yang dapat mencapai angka kredit yang lebih tinggi dari jumlah yang dipersyaratkan untuk kenaikan pangkat /jabatan setingkat lebih tinggi, maka kelebihan jumlah angka kredit tersebut dapat diperhitungkan untuk kenaikan pangkat/jabatan berikutnya.
  3. Pejabat fungsional pustakawan yang memperoleh ijazah yang lebih tinggi, dapat dipertimbangkan kenaikan pangkatnya sebagai penyesuaian ijazah, dengan ketentuan sebagai berikut:
    • Memperoleh ijazah/STTB serendah-rendahnya Sarjana (SI) di bidang perpustakaan.
    • Memperoleh ijazah/STTB serendah-rendahnya Sarjana (SI) di bidang lain ditambah dengan diklat kepustakawanan tingkat ahli yang telah disetarakan oleh Perpustakaan Nasional RI.
    • Mendapat ijin belajar atau tugas belajar yang ditetapkan oleh pejabat yang berwenang.
    • Sekurang-kurangnya setelah 1 tahun dalam pangkat terakhir.
    • Setiap unsur penilaian pelaksanaan pekerjaan dalam DP3 sekurang-kurangnya bernilai baik dalam 1 tahun terakhir.
    • Memenuhi jumlah angka kredit kumulatif minimal yang ditentukan untuk pangkat/golongan yang baru.
    • Diusulkan oleh pimpinan yang bersangkutan.

G. PEMBERHENTIAN DARI JABATAN FUNGSIONAL PUSTAKAWAN

Pejabat Fungsional Pustakawan diberhentikan dari jabatannya apabila:

  1. Dijatuhi  hukuman disiplin PNS sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980 dengan hukuman disiplin tingkat berat yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap, kecuali penurunan pangkat.
  2. Pejabat fungsional Pustakawan sebagaimana tersebut dalam butir 1 tersebut di atas, apabila telah mencapai batas usia pensiun PNS, maka dalam masa pembebasan sementara yang bersangkutan dapat diberhentikan sebagai PNS.
  3. Tidak dapat memenuhi angka kredit yang ditentukan

H. JENJANG JABATAN, PANGKAT DAN GOLONGAN RUANG DAN ANGKA KREDIT

NO. JABATAN PANGKAT DAN GOL. RUANG PERSYARATAN ANGKA KREDIT KENAIKAN PANGKAT/JABATAN
KUMULATIFMINIMAL PERJENJANG
A Pustakawan tingkat Terampila. Pustakawan Pelaksanab. Pustakawan Pelaksana Lanjutan

c. Pustakawan Penyelia

Pengatur Muda Tk. I/IIbPengatur II/c

Pengatur Tk. I/ IId

Penata Muda / IIIa

Penata Muda Tk. I/IIIb

Penata /IIIc

Penata Tk. I/IIId

40

60

80

100

150

200

300

20

20

20

50

50

100

B Pustakawan Tingkat Ahli:a. Pustakawan Pratamab. Pustakawan Muda

c.Pustakawan Madya

d. Pustakawan Utama

Penata Muda / IIIaPenata Muda Tk. I /IIIb

Penata III/c

Penata Tk. I/ IIId

Pembina /IVa

Pembina Tk. I/IVb

Pembina Utama Muda / IVc

Pembina Utama Madya / IVd

Pembina Utama / IVe

100

150

200

300

400

550

 700

 850

1050

50

50

100

100

150

150

150

200

I.  KESEJAHTERAAN, KESEHATAN DAN KESELAMATAN (K3)

Untuk K3 pustakawan mendapatkan hak sama seperti PNS. Program kesejahteraan tersebut antara lain: jaminan hari tua (pensiun), Bantuan perawatan kesehatan (ASKES), bantuan kematian dan lain-lain yang serupa dengan itu.

Disamping kesejahteraan tersebut pustakawan juga mendapat tunjangan fungsional pustakawan.

J. KEUNTUNGAN MEMILIH JALUR PUSTAKAWAN

  1. Pengembangan karir jelas dan lebih menguntungkan, karena bisa menduduki pangkat lebih tinggi dibanding non pustakawan. (Pustakawan dari Gol II/b bisa sampai ke golongan III/d, sedangkan non Pustakawan dari golongan yang sama hanya bisa sampai ke golongan III/b, Pustakawan dari golongan III/a bisa sampai ke golongan IV/e, sedangkan non Pustakawan dari golongan III/a hanya bisa sampai ke golongan IV/b).
  2. Bisa naik pangkat lebih cepat dibanding non pustakawan, sekurang-kurangnya tiap 2 tahun sekali (apabila memenuhi angka kredit yang ditentukan), sedangkan non Pustakawan untuk kenaikan pangkat regular setiap 4 tahun sekali .
  3. Disamping mendapatkan kesejahteraan sebagai PNS, Pustakawan juga mendapat tunjangan jabatan Fungsional pustakawan (terlampir)
  4. Usia Pensiun sampai 60 tahun.

Daftar Pustaka

Indonesia.Perpustakaan Nasional. 2010. Jabatan Pustakawan dan Angka Kreditnya. Jakarta: Perpusnas.

Indonesia. Perpustakaan Nasional.  2009. Tentang Petunjuk Teknik Jabatan Fungsional dan Angka Kreditnya. Jakarta: Perpusnas.

PERANAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI DALAM ORGANISASI INFORMASI PERPUSTAKAAN DI ERA GLOBAL

Latar Belakang

Pada saat ini kita hidup di era global, dimana  kebutuhan manusia akan informasi terus  berubah. Dengan perkembangan teknologi  informasi  menimbulkan tuntutan hidup yang kian besar dan beragam yang mengakibatkan pola hidup masyarakat juga berubah. Pemustaka membutuhkan semakin banyak informasi untuk mengimbangi aktivitasnya,  sementara waktu mereka terbatas untuk menelusuri informasi tersebut, sehingga di perpustakaan dibutuhkan suatu layanan yang dapat memberikan kemudahan dalam menelusur  informasi secara  efektif dan efisien ,tepat  dan cepat (right information, right users and right now) . Disini perpustakaan harus menyesuaikan diri dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang ada. Menurut Budiasri[1] Dalam transformasinya di tengah kemajuan ilmu pengetahuan termasuk teknologi informasi dan komunikasi, perpustakaan harus mampu memberikan nilai  tambah pada informasi melalui ekspansi dan inovasi. Selain mempermudah dan memperluas akses, perpustakaan hendaknya mampu melakukan manajemen pengetahuan secara maksimal.

Dari paparan tersebut di atas kiranya perpustakaan perlu mengorganisasikan kembali koleksi dan informasi yang ada di perpustakaan agar bisa ditelusur secara mudah.[2] Pengorganisasian  koleksi dan informasi  berarti menciptakan catalog dan index  yang tadinya dikerjakan secara manual berubah menjadi katalog dalam format web.

Rumusan Masalah dan Tujuan Penulisan

Berdasarkan kondisi tersebut di atas, maka rumusan masalah dalam tulisan ini adalah apakah peranan TIK dalam Organisasi Informasi perpustakaan di era global ? Adapun tujuan dari penulisan ini adalah untuk mengetahui peranan Teknologi Informasi dalam Organisasi Informasi perpustakaan di era global

Pengertian TIK, Organisasi Informasi dan Era Global

Dalam wilkipedia Indonesia disebutkan,[3] Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), atau dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah Information and Communication Technologies (ICT), adalah payung besar terminologi yang mencakup seluruh peralatan teknis untuk memproses dan menyampaikan informasi. TIK mencakup dua aspek yaitu teknologi informasi dan teknologi komunikasi. Teknologi informasi meliputi segala hal yang berkaitan dengan proses, penggunaan sebagai alat bantu, manipulasi, dan pengelolaan informasi. Sedangkan teknologi komunikasi adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan penggunaan alat bantu untuk memproses dan mentransfer data dari perangkat yang satu ke lainnya. Oleh karena itu, teknologi informasi dan teknologi komunikasi adalah dua buah konsep yang tidak terpisahkan. Jadi Teknologi Informasi dan Komunikasi mengandung pengertian luas yaitu segala kegiatan yang terkait dengan pemrosesan, manipulasi, pengelolaan, pemindahan informasi antar media. Istilah TIK muncul setelah adanya perpaduan antara teknologi komputer (baik perangkat keras maupun perangkat lunak) dengan teknologi komunikasi pada pertengahan abad ke-20.

Sedangkan menurut Siregar [4]ICT didefinisikan sebagai cara-cara elektronik dalam pengumpulan, pemrosesan, penyimpanan, dan pengkomunikasian informasi yang terdiri dari perangkat keras, perangkat lunak dan jaringan komputer yang melahirkan revolusi digital.

Dari kedua pengertian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa TIK adalah perpaduan antara teknologi komputer dan teknologi informasi yang terkait dengan kegiatan pemrosesan, manipulasi, pengelolaan, pemindahan informasi antar media.

Pengertian Organisasi Informasi

Menurut Yulia[5] bahwa organisasi informasi di perpustakaan  berkisar pada pelbagai kegiatan yang bertujuan agar supaya setiap bahan pustaka dalam koleksi perpustakaan dapat diketahui tempat fisiknya melalui nomor panggil,dan dikenali melalui sajian ringkas yang disebut cantuman bibliografi.

Dari apa yang disampaikan Yulia dapatlah dikatakan bahwa organisasi informasi adalah suatu kegiatan pengaturan atau mengorganisasikan informasi untuk memudahkan temu kembali informasi di perpustakaan.

Pengertian Era Global

[6]Menurut asal katanya, kata “globalisasi” diambil dari kata global, yang maknanya ialah universal. Achmad Suparman menyatakan Globalisasi adalah suatu proses menjadikan sesuatu (benda atau perilaku) sebagai ciri dari setiap individu di dunia ini tanpa dibatasi oleh wilayah . Sedangkan Emanuel Ritcher globalisasi didefinisikan sebagai jaringan kerja global secara bersamaan menyatukan masyarakat yang sebelumnya terpencar-pencar dan terisolasi ke dalam saling ketergantungan dan persatuan dunia.

Peran ICT  dalam Organisasi Informasi  Perpustakaan

            Dahulu orang membuat katalog masih dengan cara manual .Pustakawan harus mengetik satu-satu katalog yang dibutuhkan, dan memperbanyak dengan mesin duplikator.  Seiring dengan perkembangan teknologi komputer , katalog bisa dibuat dan diperbanyak  dengan mudah dan cepat. Database yang sudah terbentuk bisa digunakan untuk membuat berbagai jenis bibliografi seperti daftar tambahan koleksi buku. Database katalog ini dapat diakses oleh pengguna perpustakaan yang dikenal dengan OPAC (Online Public Access Catalog . Menurut Siregar peralihan katalog manual ke bentuk online disamping banyak menghemat waktu pengguna dalam penelusuran, juga mampu meningkatkan efisiensi pekerjaan pengatalogan bahan-bahan pustaka baru. Katalog elektronik juga terbukti mampu mempromosikan koleksi suatu perpustakaan sehingga tingkat pengunaannya semakin tinggi. Hal ini bisa terjadi disamping daya tarik dan jangkauan yang lebih luas, juga karena sistem ini menawarkan berbagai kelebihan fasilitas akses yang tidak dimiliki oleh katalog manual seperti penelusuran melalui nomor panggil dan penerbit, ditambah boolean logic.

Dengan perkembangan ICT , koleksi perpustakaan konvensional yang kebanyakan berbasis cetak mulai dibuat dalam bentuk digital, seperti koleksi local content (skripsi, thesis, disertasi, karya penelitian). Koleksi bukupun sudah banyak tersedia dalam edisi elektronik. Perkembangan sumberdaya informasi baru ini juga didukung dengan perkembangan yang pesat di bidang sistem akses dan temu kembali informasi, sehingga menjadikan akses informasi elektronik sebagai salah satu pilihan yang semakin penting dalam pemenuhan kebutuhan masyarakat akan informasi.

Menurut Lasa Pemanfaatan Teknologi informasi di perpustakaan didasarkan pertimbangan bahwa:

  1. Kemudahan memperoleh produk teknologi
  2. Harga produk teknologi informasi semakin terjangkau
  3. Kemampuan teknologi informasi itu sendiri
  4. Tuntutan pengguna perpustakaan

Lebih lanjut Lasa mengatakan bahwa penerapan teknologi informasi di perpustakaan diperoleh beberapa keuntungan antara lain:

  1. Lebih efektif dan efisien dalam melaksanakan kegiatan kepustakawanan
  2. Memberikan layanan yang lebih cepat, mudah dan tepat
  3. Mengembangkan infra struktur perpustakaan
  4. Meningkatkan eksistensi perpustakaan

Di era global pustakawan sebagai penyedia informasi harus bisa menjawab tantangan agar informasi dapat ditelusur dengan cepat, tepat, mudah dan efisien.[7] Dengan perkembangan ICT maka munculah banyak istilah tentang perpustakaan antara lain Istilah e-library (perpustakaan elektronik), digital library (perpustakaan digital), virtual library (perpustakaan maya), automated library (perpustakaan terotomasi), dan hybrid library (perpustakaan kombinasi). Istilah tersebut merupakan model pengembangan perpustakaan yang berbasiskan ICT yang diharapkan mampu menyelesaikan permasalah yang berkembang saat ini.

Lebih lanjut dikemukakan bahwa Perpustakaan konvensional biasanya terdiri dari fisik, format cetak, membeli koleksi dan fotocopy, peminjaman/pengembalian fisik, jumlah terbatas, terbatas ruang dan waktu. Sedangkan untuk perpustakaan Digital bersifat virtual, format digital, berlangganan dan digitalisasi, tayangan langsung / download / cdrom, jumlah unlimited, komputer / online

Konten dari perpustakaan digital sama seperti  perpustakaan konvensional hanya bentuknya berubah menjadi digital. Konten terdiri dari e-book, skripsi/thesis, journal, modul, presentation, video, audio/music, karya seni.

Menurut Siregar pemanfaaan ICT pada perpustakaan dapat dikatagorikan ke dalam dua kelompok yaitu otomasi perpustakaan dan pelayanan digital.

Otomoasi Perpustakaan

Otomasi perpustakaan adalah komputerisasi kegiatan rutin dan operasi sistem kerumahtanggaan perpustakaan (library housekeeping) yang mencakup pengadaan, pengatalogan termasuk penyediaan katalog online (OPAC), pengawasan sirkulasi dan serial. Dengan kata lain perpustakaan terotomasi adalah suatu perpustakaan yang menggunakan sistem terotomasi untuk penanganan sebagian atau seluruh kegiatan rutinnya. Otomasi perpustakaan, khususnya pengembangan database katalog merupakan embrio lahirnya online searching yang sempat populer di negara maju sebelum penggunaan internet meluas.

Pelayanan Digital

Pelayanan digital adalah penyediaan fasilitas akses jauh (remote acces) dan publikasi elektronik. Perpustakaan digital (Digital Library) adalah suatu perpustakaan yang koleksi disimpan di format yang digital (sebagai lawan cetakan, microform, atau media yang lain) dan dapat diakses oleh computers. Jumlah artikel jurnal sebagai publikasi elektronik tumbuh dan berkembang  dengan pesat. Dokumen lama didigitalisasi agar dapat diakses secara elektronik, termasuk bahan kelabu (gray literatur) yang sebelumnya sulit diperoleh.

Karakteristik Perpustakaan Digital

  1. 1.      Sistem informasi elektronik yang dinamis : Kedinamisan sistem informasi ini terletak pada kemudahan dalam pengembangan sistem, seperti model pencarian dengan berbagai jenis aturan, tambal sulam sistem. Data-data elektronik dapat dimodifikasi, disimpan, ditampilkan dengan berbagai keinginan. Pengumpulan dan Pengintegrasian dari Isi ilmiah. Obyek digital dapat dikumpulkan menjadi satu dengan menggunakan banyak kriteria.
  2. Menciptakan / Memelihara Isi local: Menciptakan dan memelihara local content yang dipelihara dengan baik mejadi karakteristik tersendiri bagi perpustakaan. Dengan memperbanyak local konten maka perpustakaan manjadi tujuan utama pengguna, karena informasi yang diinginkan hanya terdapat pada perpustakaan tersebut, sehingga perpustakaan tersebut menjadi terkenal karena sering dikunjungi. Pengembangan local konten dapat berubah Jurnal, majalah, buku, multimedia yang berisi muatan local misalnya laporan penelitian, laporan pengabdian masyarakat, laporan kerja praktek, laporan kapki / kku / pkm, buku dies natalis, skripsi / thesis, modul kuliah, presentasi kuliah, seminar, rekaman video seminar, acara-acara khusus, rekaman audio, karya arsitektur (bentuk gambar) dan masih banyak lagi bentuk-bentuk multimedianya.
  3. Memperkuat – mekanisme dan kapasitas sistim informasi / layanan: Sistem informasi layanan pada perpustakaan digital menjadi lebih banyak baik yang berkunjung secara fisik di perpustakaan, maupun yang berkunjung menggunakan media internet. Kapasitas konten yang tersimpan juga tidak dipengaruhi oleh berapa jumlah peminjam/pembaca.
  4. Meningkatkan Portabilitas: konten perpustakaan dapat dengan mudah dipindah dari ruang satu ke ruang lain atau bentuk satu ke bentuk lain, sehingga sangat memudahkan para pengguna/pustakawan dalam pengelolaannya. Efisiensi Akses : konten yang diakses mampu didapat dengan cepat dan tepat sesuai dengan dengan kebutuhan pengguna. Fleksibel: konten dapat dipindahkan dari ruang satu ke ruang lain, content dapat direkayasa menjadi bentuk lain: misalnya di copy dan cetak.
  5. Ketersediaan: konten perpustakaan yang ada tidak tergantung pada jumlah yang ada. Konten dapat di gandakan sesuai dengan keinginan. Sebagai missal peralatan multimedia dapat dipinjam untuk dilihat/didengarkan dengan jumlah pengunjung tak terbatas.
  6. Pemeliharaan jangka panjang: konten perpustakaan digital memiliki umur jauh lebih lama dibandingkan dengan konten fisik. Konten fisik membutuhkan pemeriharaan / perlakuan yang istimewa karena bisa rusak. Sementara content digital dapat di peliharan / simpan dengan waktu yang cukup panjang dan dapat disimpan dalam berbagai media penyimpanan. Misalnya hardisk, CD/DVD dan tape.
  7. Integrasi/organisasi: Perpustakaan digital memerlukan organisasi yang baik, organisasi sumber daya manusia, organisasi content. Pengintegrasian data yang diorganisasi dengan baik, akan menghasilkan informasi yang baik pula.
  8. Hak cipta: Yakinkan bahwa konten yang di akses tidak melanggar hak cipta, sehingga pengguna maupun pihak perputakaan tidak khawatir dengan dampak dari akses digital tersebut.
  9. Memerlukan Jalur pintu akses informasi tunggal: Desain akses data seharusnya menggunakan jalur satu akses informasi, agar informasi yang didapatkan akurat. Sering dilakukan oleh pihak perpustakaan bahwa akses dalam gedung dibuat berbeda dengan akses melalui internet. Data yang ditampilkan pada layanan di gedung, tidak sama dengan data yang ditampilkan di internet. Hal ini akan menyulitkan pengguna dalam peminjaman content. Meskipun pemisahan ini dilakukan seharusnya dilakukan sinkronisasi agar isinya sama.
  10. Multi: pada perpustakaan digital banyak sekali multi yaitu multi format, multi media, dan multi platform. Format konten dapat disajikan dalam berbagai bentuk, misalnya .doc, pdf, mp3, mp4, flv, dat. Sedangkan multi media dapat berupa audio dan video dan dapat disimpan dalam banyak platform misalnya disimpan dalam sistem operasi Windows dan Linux.

Melalui UU 43 Tahun 2007 Tentang Perpustakaan, pemerintah mengharapkan para pengelola perpustakaan di lembaga swasta maupun di lembaga pemerintah , untuk melakukan pengembangan layanan perpustakaan sesuai dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang berkembang.

Dalan UU Perpustakaan Pasal 19 (ayat1) Pengembangan perpustakaan merupakan upaya peningkatan sumber daya, pelayanan, dan pengelolaan perpustakaan, baik dalam hal kuantitas maupun kualitas. (Ayat 2) Pengembangan perpustakaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan berdasarkan karakteristik, fungsi dan tujuan, serta dilakukan sesuai dengan kebutuhan pemustaka dan masyarakat dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi. (Ayat 3) Pengembangan perpustakaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilakukan secara berkesinambungan.

Dengan penerapan Teknologi Informasi yang tepat, pengelolaan perpustakaan akan lebih cepat dan efisien, juga standart layanan kepada masyarakat pengguna dapat ditingkatkan, bagi pengguna sendiri akan sangat terbantu karena banyak kemudahan yang ditawarkan.

Kesimpulan:

  1. Perkembangan teknologi informasi telah membawa perubahan yang besar terhadap organisasi Informasi Perpustakaan. Pengembangan akses informasi elektronik di perpustakaan  dimulai dari pengembangan otomasi kegiatan rutin perpustakan seperti pengadaan, pengatalogan, penyediaan katalog online sampai dengan kegiatan sirkulasi dan akses temu balik informasi. Dan kemudian memproduksi sumberdaya informasi digital dengan mengembangkan bahan-bahan digital sebagai koleksi e-library.
  2. Pemanfaatan Teknologi informasi di perpustakaan didasarkan pertimbangan bahwa:

Kemudahan memperoleh produk teknologi, harga produk teknologi informasi semakin terjangkau, kemampuan teknologi informasi itu sendiri dan tuntutan pengguna perpustakaan.

3        Penerapan teknologi informasi di perpustakaan terdapat beberapa keuntungan: Lebih efektif dan efisien dalam melaksanakan kegiatan kepustakawanan, memberikan layanan yang lebih cepat, mudah dan tepat, mengembangkan infra struktur perpustakaan, meningkatkan eksistensi perpustakaan.

DAFTAR PUSTAKA

Budiasri, R. Trisno.  2010. Layanan Perpustakaan. Semarang: Badan Arsip dan Perpustakaan Propinsi Jawa Tengah.

http://duniaperpustakaan.com/2010/02/13/organisasi-informasi-perpustakaan-berbasis-

            technologi dan tantangannya/ (diunduh  12 Oktober 2010)

http://id.wikipedia.org/wiki/Teknologi_Informasi_Komunikasi (diunduh 12 Oktober 2010)

Siregar, A. Ridwan. 2004. Perpustakaan :Energi Pembangunan Bangsa.Medan: Usu Press

Yulia, Yuyu. 2007. Materi Pokok Pengolahan Bahan Pustaka. Jakarta: UT, hal. 1.2

http://id.wikipedia.org/wiki/Globalisasi (diunduh 13 Oktober 2010)

Lasa HS. 2009. Kamus Kepustakawanan Indonesia.Yogyakarta: Pustaka Book Pub.


[1] Budiasri, R. Trisno.  2010. Layanan Perpustakaan. Semarang: Badan Arsip dan Perpustakaan Propinsi Jawa Tengah

[4] Siregar, A. Ridwan. 2004. Perpustakaan :Energi Pembangunan Bangsa.Medan: Usu Press, h. 40

[5] Yulia, Yuyu. 2007. Materi Pokok Pengolahan Bahan Pustaka. Jakarta: UT, hal. 1.2

MENINGKATKAN KUALITAS LAYANAN DI PERPUSTAKAAN


A. Pendahuluan

Di era global sekarang ini yang ditandai dengan kemajuan teknologi informasi peran perpustakaan terasa semakin penting. Hal tersebut membuat perpustakaan harus memasang strategi yang tepat sebagai penyedia informasi agar perpustakaan tidak ditinggalkan oleh masyarakat pemakainya.
Dengan makin transparannya batas antara negara dan wilayah, maka suka atau tidak suka perpustakaan harus menerima perkembangan teknologi informasi dan mengaplikasikannya ke dalam layanan-layanan perpustakaan, sehingga kualitas pelayanan yang ada di perpustakaan akan meningkat. Yang dulu pelayanan perpustakaan hanya dilakukan secara manual sekarang sudah menggunakan komputer baik dari sistem peminjaman, pengembalian sampai dengan penelesuran informasi. Membanjirnya informasi mengharuskan perpustakaan untuk bisa selalu mengadopsi informasi informasi baru yang selalu berkembang untuk kepentingan masyarakat penggunanya. Sehingga adanya layanan internet di perpustakaan memang sangat diperlukan.
Sebagai lembaga layanan informasi perpustakaan mempunyai prospek yang cukup luas dalam pembangunan. Perpustakaan sebagai sumber informasi diharapkan tidak hanya sekedar melayani masyarakat untuk mendapatkan informasi ilmu pengetahuan saja, akan tetapi perpustakaan diharapkan dapat mempertahankan eksistensinya sebagai lembaga pelayanan informasi serta dapat meningkatkan kualitas layanan yang ada. Hal tersebut akan dapat terlaksana apabila dudukung oleh pustakawan-pustakawan yang handal, yang tidak saja profesional dalam bidang ilmu perpustakaan tetapi juga trampil dalam bidang ilmu pengetahuan lain yang dapat meningkatkan jati diri pustakawan dan tentunya untuk peningkatan kualitas layanan perpustakaan.
Dalam memberikan layanan kepada penggunanya perpustakaan masih perlu belajar dan menengok lembaga lain seperti bank, hotel, remah sakit dan biro-biro jasa lain yang sama –sama memberikan jasa layanan kepada masyarakat. Untuk itu agar kesan pegawai perpustakaan galak, tidak ramah, sombong , angker tidak lagi disandang sebagai gelar yang selalu melekat pada penyelenggara perpustakaan , maka perlunya diusahakan langkah-langkah perbaikan untuk peningkatan kualitas layanan perpustakaan..

B. Pengertian Kualitas layanan

Definisi kualitas (Tjiptono , 2001:3), mengemukakan:
• Kualitas meliputi usaha memenuhi atau melebihi harapan pelanggan.
• Kualitas mencakup produk, jasa, manusia, proses, dan lingkungan.
• Kualitas merupakan kondisi yang selalu berubah (misalnya apa yang dianggap merupakan kualitas saat ini mungkin dianggap kurang berkualitas pada masa mendatang).

Goetsch dan Davis dalam Tjiptono (2001:4) mendefinisikan bahwa kualitas merupakan suatu kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk, jasa, manusia, proses, dan lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan.
Dari definisi tersebut dapat kita simpulkan bahwa kualitas bukan hanya menekankan pada aspek hasil akhir yaitu produk dan jasa tetapi juga menyangkut kualitas manusia, kualitas proses dan kualitas lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan . Dari pengertian tersebut bila kita kaitkan dengan peningkatan kualitas jasa layanan di perpustakaan maka yang harus dievaluasi adalah SDM sebagai pengelola perpustakaan, sistem yang ada di perpustakaan, bentuk layanan yang sudah kita berikan , sarana dan prasarana sebagai penunjang layanan dan juga lingkungan yang mendukung untuk terciptanya suasana yang menyenangkan di perpustakaan.
Pengertian pelayanan (Moenir, 2001:27) adalah serangkaian kegiatan, karena itu merupakan proses. Sebagai proses, pelayanan berlangsung secara rutin dan berkesinambungan, meliputi seluruh kehidupan orang dalam masyarakat. Sedangkan pelayanan umum menurut Moenir (2001:26) dikemukakan bahwa pelayanan umum adalah kegiatan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang dengan landasan faktor materiel melalui sistem, prosedur dan metode tertentu dalam rangka usaha memenuhi kepentingan orang lain sesuai dengan haknya.

Dari apa yang sudah disampaikan Munir dapatlah kita mengerti bahwa dalam memberikan pelayanan kepada pemakai yang perlu kita garis bawahi adalah dengan menggunakan sistem dan prosedur. Tentunya sistem dan prosedur untuk kemudahan bagi pemakai. Sistem apapun yang digunakan dan prosedur apapun yang akan diterapkan di Perpustakaan hendaknya selalu dipikirkan untuk kepentingan pemakai. Kalau dalam dunia bisnis kita kenal bahwa pembeli adalah raja, maka tidaklah berlebihan apabila slogan tersebut kita adobsi untuk kepentingan pelanggan kita di Perpustakaan.
F.Tjiptono (2001:46) mengemukakan bahwa” pengukuran kualitas suatu jasa atau produk hampir sama dengan pengukuran kepuasan pelanggan, yang ditentukan oleh variabel harapan dan kinerja yang dirasakan. Ketidaksesuaian antara harapan dan layanan yang diberikan akan menimbulkan kesenjangan (gap).

Parasuraman, Zeithaml, dan Barry dalam Tjiptono (2001:46) mengemukakan ada lima kesenjangan yang menyebabkan pelayanan tidak berhasil yaitu:
1. Gap antara harapan konsumen dan persepsi manajemen, dimana manajemen tidak selalu dapat merasakan apa yang dinginkan para pelanggan secara tepat.
2. Gap antara persepsi manajemen dan spesifikasi kualitas jasa, dimana manajemen mampu secara tepat apa yang diinginkan oleh para pelanggan, tetapi tidak menyusun suatu standar kinerja tertentu.
3. Gap antara kualitas jasa dan penyampaian jasa, dimana karyawan perusahaan tidak bisa memenuhi standar, atau dihadapkan pada standar-standar yang bertentangan.
4. Gap antara penyampaian jasa dan komunikasi eksternal, dimana harapan konsumen dipengaruhi oleh pernyataan-pernyataan yang ada di iklan, dan tidak sesuai dengan kenyataan yang ada.
5. Gap antara jasa yang dirasakan dan jasa yang diharapkan, dimana konsumen mengukur kinerja atau prestasi perusahaan dengan cara yang berlainan dan salah dalam mempersepsikan kualitas jasa tersebut.

C. Upaya Meningkatkan Kualitas Layanan Perpustakaan

Pemakai jasa perpustakaan sering kali mengeluh akan layanan perpustakaan yang buruk, baik karena fasilitas perpustakaan yang kurang mendukung atau karena faktor pustakawan yang kurang profesional dalam memberikan pelayanan dan cenderung mengabaikan unsur-unsur pelayanan yang baik.
Perpustakaan yang baik dapat diukur dari keberhasilannya dalam menyajikan pelayanan yang berkualitas kepada masyarakat pemakainya. Lengkapnya fasilitas yang ada, besarnya dana yang disediakan dan banyaknya tenaga pustakawan tidak berarti apa-apa bila perpustakaan tersebut tidak mampu menyediakan pelayanan yang berkualitas. Agar kualitas layanan dapat dicapai,
Philip Kotler dalam J Supranto (2006: 231) mengemukan lima prinsip yang harus diperhatikan bagi pelayan publik:
1. Tangible, artinya sesuatu yang bisa dilihat, dirasakan dan didengarkan. Seperti: kemampuan petugas dalam melayani, komunikasi yang baik, peralatan yang menunjang pelayanan.
2. Realible (handal), yaitu kemampuan membentuk pelayanan yang dijanjikan dengan tepat dan memiliki keajegan.
3. Responsiveness (pertanggungjawaban), yaitu rasa tanggung jawab terhadap mutu pelayanan.
4. Assuranse (jaminan), yaitu adanya jaminan keamanan atau bebas dari resiko bagi para pemakai.
5. Emphaty, arinya adanya perhatian kepada konsumen atau individu.

Disamping persyaratan di atas, pustakawan dalam memberikan layanan kepada pemakai perpustakaan juga harus memperhatikan:
1. Mengetahui kebutuhan pemakainya.
2. Menerapkan persyaratan manajemen untuk mendukung penampilan (kinerja)
3. Mudah dalam pengurusan bagi yang berkepentingan (prosedur sederhana).
4. Mendapat pelayanan yang wajar.
5. Mendapat pelayanan yang sama tanpa pilih kasih.
6. Mendapat perlakuan jujur dan terus terang (transparan).

DAFTAR PUSTAKA:
SUPRANTO, J. 2006. Pengukuran Tingkat Kepuasan Pelanggan: untuk menaikkan pangsa pasar. Jakarta: Rineka Cipta.
MOENIR. H.A.S. 2001. Manajemen Pelayanan Umum di Indonesia. Jakarta: Bumi Akssara.

.

KEBIJAKAN PENGEMBANGAN KOLEKSI DI UPT PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS DIPONEGORO

I.                   PENDAHULUAN

UPT Perpustakaan Universitas Diponegoro merupakan Perpustakaan Perguruan tinggi yang  bertujuan  menunjang Tri Dharma Perguruan Tinggi  yang meliputi  pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengabdian  pada  masyarakat. Untuk  mencapai  tujuan  tersebut  perpustakaan  perlu  menyediakan bahan pustaka yang  sesuai dengan kebutuhan  pemustaka (masyarakat yang dilayani). Agar tujuan tersebut terlaksana perpustakaan  perlu mengenali siapa masyarakat pemakainya dan kebutuhan  informasi apa yang diperlukan. Analisis pemakai dan kebutuhan pemakai diperlukan agar perpustakaan mampu menyediakan  informasi  yang  relevan dan up to date (mutakhir) sesuai dengan kebutuhan pemakainya.

Dalam menyediakan bahan pustaka atau informasi bagi pemakai, di perpustakaan  dikenal  dengan  istilah  pengembangan koleksi  yang  kegiatannya  meliputi memilih dan mengadakan bahan pustaka sesuai dengan kebutuhan pemakai dan kebijakan yang  telah ditentukan.

Untuk melaksanakan  kegiatan  pengembangan koleksi  secara terarah diperlukan suatu  ketentuan yang jelas yang dapat digunakan sebagai pedoman bagi pustakawan pengadaan baik dalam kegiatan pemilihan bahan pustaka (seleksi) maupun kegiatan lain dalam pengembangan koleksi.

Kebijakan  pengembangan  koleksi  merupakan alat/sarana untuk mengarahkan  segala aktivitas yang berkaitan dengan perencanaan, pendanaan, pemilihan, dan pengadaan bahan pustaka. Kebijakan  pengembangan koleksi juga merupakan petunjuk untuk mengembangkan koleksi secara terarah. Agar kebijakan  pengembangan  koleksi dapat dilaksanakan secara terarah, kebijakan tersebut harus dituangkan secara tertulis.

Dalam  melaksanakan  pengembangan koleksi perlu diperhatikan faktor-faktor kerelevanan, berorintasi  kepada  kebutuhan  pengguna,  kelengkapan, kemutahiran dan kerjasama.

II.                VISI – MISI
a.      VISI MISI PERPUSTAKAAN

Visi :

Menjadi pusat layanan sumber pembelajaran dan riset berbasis teknologi informasi

Misi:

  1. Menyediakan informasi ilmiah guna mendukung  proses  pembelajaran  dan penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat
  2. Menyediakan akses  informasi tanpa batas  ruang dan  waktu
  3. Meningkatkan  kerjasama  jaringan  informasi antar  perpustakaan.

 

VISI MISI PENGEMBANGAN KOLEKSI
Visi:

Menunjang  proses pembelajaran dengan pengayaan informasi melalui pengembangan koleksi yang sesuai dengan  kurikulum

Misi :

  1. Menyediakan dan mengembangkan  informasi yang  menunjang  Tri Dharma Perguruan Tinggi yang  berbasis  teknologi  informasi dalam  menunjang  proses belajar  mengajar di lingkungan Universitas Diponegoro.
  2. Inventarisasi kebutuhan bahan pustaka pada semua program studi, jurusan, dan fakultas di lingkungan Undip
  3. Penyusunan daftar koleksi berdasarkan skala prioritas.

 

Tujuan kebijakan :

Kebijakan pengembangan koleksi bertujuan memberikan pedoman dalam  menyelenggarakan  pengembangan koleksi perpustakaan Universitas Diponegoro Semarang baik melalui  hadiah,  pembelian maupun tukar menukar dengan menunjukkan  langkah-langkah/  prosedur yang  perlu ditempuh agar dalam pemilihan  koleks i   perpustakaannya tepat dan berdaya guna.

III.             KOMUNITAS YANG DILAYANI

UPT Perpustakaan  Undip merupakan salah satu perpustakaan perguruan tinggi, dimana masyarakat yang dilayani adalah civitas akademika Undip. Undip saat ini memiliki 11 Fakultas dengan 68 program studi, dengan jumlah  mahasiswa kurang  lebih 40.000 orang,  jumlah dosen  1687 orang  dan  memiliki  jumlah koleksi  kurang  lebih  107.000 eksemplar dari 43.000 judul.  Fakultas yang ada di Undip terdiri dari: Fakultas kedokteran, Fakultas Ekonomi, Fakultas Hukum, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Fakultas ilmu Budaya, Fakultas Peternakan, Fakultas MIPA, Fakultas Perikanan dan  ilmu Kelautan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Fakultas Psikologi, Fakultas teknik, dan Pasca Sarjana.

IV.             TANGUNG JAWAB ATAS PENGEMBANGAN KOLEKSI

Di UPT Perpustakaan Undip yang  bertanggung  jawab atas pengembangan koleksi  adalah  Kepala  Perpustakaan  dibantu oleh pustakawan bidang  pengadaan.

Pustakawan pengadaan bertugas membuat daftar usulan koleksi . Daftar usulan  tersebut dimintakan  persetujuan  Kepala UPT Perpustakaan . Agar terbentuk suatu  koleksi  yang  dapat  menunjang Tri Dharma Perguruan Tinggi, Pustakawan di bagian  pengadaan bertugas  melakukan  seleksi  bahan pustaka yang disesuaikan dengan kebutuhan  civitas akademika Undip. Dalam melaksanakan tugas tersebut pustakawan pengadaan melakukan kerja sama dengan  para dosen dan  pustakawan fakultas untuk  mengajukan  daftar usulan buku     sesuai dengan  kebutuhan  masing-masing  fakuktas. Di samping  itu  pustakawan  pengadaan juga meminta bantuan dosen  melalui  kepala  Perpustakaan  agar  mau  mengirimkan  judul-judul  buku yang  menjadi  karyanya  ke  perpustakaan . Buku-buku  karya dosen Undip  tersebut selanjutnya dibeli, atau dosen  tersebut memberikan hadiah ke perpustakaan.

V.                PENDANAAN DAN ALOKASI

Pengadaan  bahan pustaka dapat dilakukan dengan  cara pembelian, hadiah dan tukar-menukar. Di UPT Perpustakaan  Undip, kegiatan pembelian bahan pustaka diperoleh  melalui dana  APBN  (pemerintah)  dan dana  PNBP (Undip). Dana tersebut dialokasikan untuk pembelian bahan pustaka buku dengan memperhatikan kebutuhan 12 fakultas yang ada.

  1. KEBIJAKAN SELEKSI, PROSEDUR DAN PRIORITAS

Otoritas  yang  melaksanakan  seleksi  adalah  dosen dan  pustakawan. Sedangkan mahasiswa boleh memberikan usulan  dengan memperhatikan kebutuhan perkuliahan.  Yang  membuat  rumusan  kebi jakan  seleksi adalah  pustakawan  pengadaan,  dimana dalam  melakukan  seleksi   perlu  mempertimbangkan  kriteria sebagai berikut:

a.      Kualitas isi

Untuk bahan  pustaka tercetak  yang dibeli baik fiksi maupun non fiksi harus merupakan  hasil  karya dari  para ahli yang  mempunyai otoritas di bidangnya, demikian juga untuk bahan pustaka non cetak.

b.      Kualitas fisik

Bahan  pustaka yang  dipilih penjilidan harus kuat, mudah dibuka dan menarik. Dalam hal cetakan harus mudah dibaca, Margin halaman harus cukup lebar untuk memungkinkan penjilidan ulang . Desain harus menarik, baik desain cover maupun  ilustrasi. Sedangkan untuk bahan non cetak kualitas teknis bahan yang dibeli harus memenuhi standar profesional.

c.       Penerbit

Bahan pustaka yang dipilih harus merupakan produk penerbit yang mempunyai  reputasi  yang  baik khususnya dalam penyajian  materi. Demikian juga untuk bahan non cetak bahan yang dibeli harus dari distributor / produser yang bereputasi baik.

d.      Kemutakhiran

Bahan pustaka yang akan dipilih harus dilihat  dari tahun penerbitannya., sehingga diperoleh bahan yang selalu  up to date dan mengikuti perkembangan.

e.       Harga

Harga juga  menjadi  pertimbangan  dalam  melakukan  seleksi  bahan pustaka. Apakah  buku  yang akan dibeli sangat dibutuhkan atau banyak digunakan.

Disamping kritria di atas  dalam menyeleksi bahan pustaka juga perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

  1. Pengadaan  buku dengan judul  baru  minimal  setiap judul 3 eksemplar,
  2. Pengadaan buku dengan judul yang sudah ada perlu  melihat tingkat keterpakaian buku yang bisa dilihat dari statistik buku yang dipinjam dan penambahannya dengan melihat eksemplar yang sudah dimiliki.
  3. Alokasi dana pembelian baik melalui dana APBN maupun PNBP  tetap memperhatikan semua fakultas , jurusan dan prodi  yang ada. Artinya setiap fakultas,  jurusan  dan  prodi  yang ada dipertimbangkan untuk  mendapatkan  alokasi dana yang sama.

Buku-buku yang  mendapat prioritas pengadaan adalah:

1. Buku-buku  yang  susah  didapat  seperti  buku-buku  peternakan, perikanan .

2. Buku-buku  karya dosen Undip

Adapun  prosedur  untuk seleksi  bahan  pusaka  adalah sebagai berikut:

  • Menghimpun  alat  seleksi, seperti:
  1. buku pedoman akademik masing-masing fakultas  untuk mengetahui  kurikulum  / silabus mata kuliah
  2.  katalog  penerbit,
  3.  bibliografi,
  4. daftar tambahan  buku baru,
  5.  tinjauan dan resensi,
  6.  katalog buku online,
  7. pangkalan data perpustakaan lain.
  8. Melakukan seleksi bahan pustaka berdasarkan alat  seleksi yang tersedia
  9. Meminta daftar usulan buku ke fakultas
  10. Melihat daftar  usulan  buku  yang  ada: dari dosen, mahasiwa melalui email  yang  sudah  dikirim  ke bagian  pengadaan ataupun lewat daftar usulan buku online yang  tersedia di website Upt Perpustakaan Undip.
  11. Mengecek bahan pustaka yang  diusulkan  melalui OPAC Undip untuk memastikan bahan pustaka tersebut sudah dimiliki atau belum.
  • Membuat daftar usulan buku . Dalam  membuat daftar  usulan buku  harus disesuaikan dengan  jumlah dana yang  tersedia, banyaknya fakultas  , skala  prioritas dan desiderata. Untuk pengadaan melalui dana APBN, daftar  usulan  dibuat dan diajukan  satu  tahun  sebelumnya dari  tahun anggaran yang  ditetapkan. Sedangkan untuk dana PNBP daftar usulan dibuat 4 kali dalam setahun yaitu  bulan Januari, April, Juli dan Oktober.
  • Meminta  persetujuan  kepala UPT Perpustakaan  atas  daftar usulan buku yang sudah dibuat.
  • Daftar  usulan  buku  yang  sudah disetujui   dikirim kepada unit terkait untuk proses lebih lanjut.

PROSEDUR PENGADAAN BAHAN PUSTAKA MELALUI DANA APBN

  1. Kepala UPT Perpustakaan membuat TOR / proposal untuk diajukan kepada pimpinan Universitas.
  2. Pustakawan pengadaan membuat daftar usulan buku  yang disesuaikan dengan jumlah dana yang diajukan.
  3. Setelah selesai daftar usulan diserahkan kepada kepala UPT Perpustakaan , apabila mendapat persetujuan maka daftar usulan tersebut berserta proposal dikirimkan ke panitia lelang Undip.
  4. Selanjutnyua panitia pengadaan melakukan tugas sesuai dengan PP No. 8 tahun 2006 pasal 10 ayat (5) yaitu:

1)      Menyusun jadwal dan menetapkan cara pelaksanaan serta lokasi pengadaan

2)      Menyusun dan menyiapkan harga perkiraan sendiri (HPS)

3)      Menyiapkan dokumen pengadaan

4)      Mengumumkan pengadaan barang/jasa di surat kabar nasional dan / atau propinsi dan / atau papan pengumuman resmi untuk penerangan umum dan juga diumumkan di website pengadaan nasional

5)      Menilai kualifikasi penyedia melalui pascakualifikasi atau prakualifikasi

6)      Melakukan evaluasi terhadap penawaran yang masuk

7)      Mengusulkan calon pemenang

8)      Membuat laporan mengenai proses dan hasil pengadaan barang dan jasa

9)      Menandatangani pakta integritas sebelum pelaksanaan pengadaan barang/ jasa dimulai

  1. Selama proses penawaran  berlangsung untuk bahan  pustaka yang berbahasa asing  adakalanya berstatus OOP  (out of Print), OOS (Out of stock), not available (tidak tersedia), NYP (belum terbit) ataupun publication canceled) . maka tugas bagian pengadaan membuat daftar bahan pustaka pengganti dengan  memberi  persyaratan  bahwa  peserta lelang harus dapat menunjukkan surat dari penerbit asli yang menyatakan status buku tersebut,  Hal tersebut dilakukan untuk menghindari kecurangan dalam proses pengadaan . Dan Daftar pengganti yang dibuat tidak boleh berasal dari peserta lelang, agar tidak terjadi permainan harga.
  2. Selama proses pengadaan berlangsung, bagian pengadaan mencatat setiap kegiatan yang berlangsung, seperti pengiriman dilakukan dalam berapa tahap, prosentase buku yang sudah dikirim,  dan juga prosentase penggantian buku yang berstatus.
  3. Menerima buku datang dan mencocokkan dengan daftar usulan buku. Biasanya untuk pengecekan dilakukan dengan nomor kontrak buku.
  4. Shelving untuk buku-buku yang sudah diterima yang diurutkan berdasarkan  nomor Kontrak buku yang ditempel di punggung buku. Nomor kontrak ini dibuat dari nomor urut daftar usulan buku. Hal tersebut dilakukan untuk memudahkan pengecekan selama proses pengiriman , juga memudahkan pengecekan  oleh tim penerima barang ataupun dari BPK.
  5. Setelah proses pengiriman selesai , bagian pengadaan melaporkan kepada panitia penerima barang untuk melakukan pengecekan bahwa buku sudah selesai dikirim.

PROSEDUR PENGADAAN MELALUI DANA PNBP

  1. Membuat daftar usulan buku sesuai dengan jumlah dana yang tersedia
  2. Daftar usulan tersebut diserahkan kepada Ka. UPT
  3. Ka UPT  Perpustakaan menunjuk rekanan yang mempunyai reputasi yang baik dan dianggap mampu untuk melaksanakan tugas tersebut.
  4. Menerima buku datang dan mencocokkan buku dengan dafar pengiriman dan daftar usulan.
  5. Shelving buku yang sudah diterima berdasarkan nomor urut buku
  6. Melaporkan kepada panitia penerima barang
  1. VII.          TINGKAT MATERI YANG DIKUMPULKAN

Tercetak

  1. Teks book :  buku- buku teks, terbitan pemerintah, koleksi referensi
  2. Terbitan Berkala (Periodecals) seperti Koran, Majalah dll.
  3. Jurnal
  4. Grey Literature seperti Tesis, Disertasi, Laporan Penelitian

Non Cetak

  1. CD ROM : Proquest, CD Suplement Buku dan Majalah,
  2. DVD Sampoerna (Permata Bangsaku dan Maestro)
  3. Koleksi Digital (Tesis, Disertasi dan Penelitian)
  4. Online Jurnal (Proquest )

VIII.       PEMAKAI YANG MENDAPAT PRIORITAS

Civitas akademika Undip mendapat prioritas yang sama dalam seleksi bahan pustaka  yang disesuaikan dengan dana/ anggaran yang ada dan  kebutuhan masing-masing yang bisa dilihat dari fakultas, jurusan maupun prodi.

IX.             PENJUAL /PENERBIT ( KODIFIKASI)

Untuk dana APBN   pengadaannya dengan sistem lelang, sehinga tergantung dari penerbit/ distributor yang menang lelang.

X.                KOLEKSI KHUSUS

Koleksi khusus yang dimiliki perpustakaan Undip adalah koleksi tesis, disertasi dan laporan  penelitian  yang diperoleh dari dosen yang akan  mengajukan kenaikan pangkat.  Disamping  itu perpustakaan juga mempunyai koleksi hasil kerja sama  yaitu  koleksi Bank Dunia, koleksi Sampoerna Corner, Koleksi Pojok BNI dan Koleksi NBC (Nation Building Corner). Koleksi tersebut menjadi tanggungjawab pustakawan   yang ditugasi untuk mengolah  dan  melayankan bahan  pustaka tersebut, sedangkan untuk pengadaannya tergantung dari masing-masing lembaga tersebut.

XI.             PENYIANGAN KOLEKSI (WEEDING)

Penyiangan  koleksi adalah  suatu praktek  pengeluaran atau pemindahan ke gudang , duplikat bahan pustaka, buku-buku yang jarang digunakan, dan bahan pustaka lainnya yang tidak lagi dimanfaatkan oleh pengguna. Penyiangan  dilakukan  agar bahan pustaka yang dimiliki selalu up to date, tepat guna dan mencermikan tujuan perpustakaan. Disamping itu juga  menghemat ruangan agar  tidak penuh, juga  meningkatkan akses   pada koleksi. Adapun kriteria penyiangan  koleksi yang ada di UPT Perpustakaan Undip adalah sebagai berikut:

  1. Subyek tidak sesuai lagi dengan kebutuhan pengguna perpustakaan
  2.  Bahan pustaka yang sudah usang isinya atau sudah kadaluwarsa.
  3. Edisi terbaru sudah ada, apabila eksemplar terlalu banyak maka yang  lama dapat dikeluarkan dari koleksi
  4. Bahan pustaka yang tingkat kerusakannya sudah tidak bisa diperbaiki lagi.
  5. Bahan pustaka yang isinya tidak lengkap lagi dan tidak dapat diusahakan gantinya.
  6. Bahan pustaka yang jumlah eksemplarnya banyak, tetapi frekuensinya rendah. biasanya buku-buku yang didapatkan melalui hadiah jumlah eksemplarnya banyak sehingga perlu disiangi agar tidak memakan  tempat. Maksimal 5 eks yang di sirkulasi dan 1 eks untuk koleksi cadangan /tandon.
  7. Hadiah yang diperoleh tanpa diminta, dan tidak sesuai dengan kebutuhan pemustaka.
  8. Termasuk dalam  katagori  buku yang dilarang  menurut  hukum  untuk beredar.
  9. Bahan pustaka yang tidak digunakan lagi dan tidak dibutuhkan

Dalam  melakukan penyiangan ,  harus mempertimbangkan berbagai aspek seperti: mengkaji ulang  perkembangan  kebutuhan  informasi  pemustaka,  melihat riwayat  pemanfaatan  bahan pustaka tersebut, dan juga anggaran yang  tersedia untuk pengembangan koleksi.

Yang  melaksanakan penyiangan adalah pustakawan , adapun prosedur penyiangan adalah sebagai berikut:

  1. Pustakawan    mengadakan pemilihan  bahan pustaka yang perlu dikeluarkan dari koleksi berdasarkan pedoman penyiangan.
  2. Pustakawan  mendata buku-buku yang akan disiangi .
  3. Buku yang dikeluarkan dari koleksi, kartu bukunya dikeluarkan dari kantong  buku  yang  bersangkutan. Begitu pula dengan  katalognya, harus dihapus dari Opac.
  4. Buku-buku tersebut distempel/ dicap “ dikeluarkan dari koleksi perpustakaan” sebagai bukti bahwa bahan pustaka tersebut sudah dikeluarkan dari koleksi perpustakaan.
  5. Apabila bahan tersebut masih dapat dipakai orang lain, dan jumlahnya banyak , maka dapat disisihkan  untuk bahan  penukaran atau hadiah
  6. Apabila dalam beberapa tahun buku itu tidak ada yang membutuhkan , maka buku itu dapat dikeluarkan dari koleksi perpustakaan.
  7. Bahan pustaka yang akan dikeluarkan harus dibuatkan berita acara, dan beberapa prosedur administrasi lainnya dengan memperhatikan peraturan yang berlaku tentang penghapusan  barang milik negara.

XII.          KEBIJAKAN HADIAH DAN SUMBANGAN

Perpustakaan menerima hadiah atau sumbangan dari manapun dan berhak menyeleksi  hadiah  tersebut  sesuai dengan kebutuhan, dengan mempertimbangkan cakupan buku-buku yang disumbangkan sesuai dengan kebutuhan , tingkat pemanfaatan koleksi, juga pengolahan dan penyimpanannya.

  1. Hadiah atas permintaan, prosedurnya:
    1. Menyusun daftar buku yang akan diajukan kepada pihak pemberi sumbangan
    2. Mengirimkan surat permohonan dengan disertai daftar buku yang dibutuhkan
    3. Apabila permohonan diterima, mengirimkan ucapan terima kasih
    4. Menerima buku-buku sumbangan dan mencocokkan dengan daftar pengantar apakah sudah sesuai/ belum dengan daftar usulan yang dibuat.
    5. Mengolah buku sumbangan sesuai  prosedur.

2.  Hadiah tidak atas permintaan, prosedurnya:

    1. Buku yang dierima dicocokkan dengan surat pengantar.
    2. Mengirimkan surat ucapan terima kasih
    3. Buku yang diterima diperiksa , apakah subyek sesuai dengan kebijakan pengembangan koleksi, apabila sesuai buku dapat  diproses. Apabila jumlahnya banyak buku tersebut dapat dihadiahkan ke perpustakaan fakultas atau perpustakaan lain. Jika buku tidak sesuai disisihkan untuk bahan pertukaran atau dihadiahkan kembali kepada pihak lain .

XIII.  Kebjakan tukar- menukar

Tukar menukar koleksi yang dilakukan adalah dengan mengirimkan koleksi  yang  diterbitkan  sendiri, seperti, warta perpustakaan, daftar tambahan koleksi buku baru, dan juga buku hadiah yang jumlah eksemplarnya banyak .

XIV.       KERJASAMA

Koleksi yang dimiliki perpustakaan  sebaiknya hasil  kerja sama semua pihak yang berkepentingan dalam pengembangan koleksi dalam hal ini adalah pustakawan pengadaan, pustakawan fakultas,  kepala perpustakaan, dosen, mahasiswa . Karena dari  kerjasama  yang  baik  akan diperoleh  koleksi  yang sesuai  dengan  kebutuhan . Sedangkan   kerjasama dengan lembaga ataupun perpustakaan lain dapat dilakukan dengan cara tukar menukar koleksi, hadiah ataupun penggandaan  koleksi.

XV.       KEBIJAKAN KELUHAN DAN PENGADUAN

Untuk Keluhan atau  pengaduan  dapat dimasukkan  ke dalam kotak saran  yang tersedia  atau   langsung  menemui  petugas  perpustakaan ataupun kepala perpustakaan. Bahan pustaka yang dihilangkan ,  harus mengganti  sesuai dengan bahan pustaka yang dihilangkan atau  mengganti  uang  yang  jumlahnya  sesuai dengan harga bahan  pustaka tersebut.

  1. Lampiran-lampiran:

DAFTAR PUSTAKA

Septiyantono, Tri dan Umar Sidik.2003. Dasar-dasar Ilmu Perpustakaan dan Informasi.  Editor. Yogyakarta: Jurusan Ilmu Perpustakaan dan Informasi, Fakultas Adab

Sulistyo-Basuki. 1993. Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta: Gramedia

Yulia,Yuyu.2009. Materi Pokok Pengembangan Koleksi; 1-9; PUST 2230. Jakarta: Universitas Terbuka